BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya meninjau sejumlah ruang kreatif di kawasan Braga serta aktivitas ekonomi kreatif di Pasar Cihapit, Kota Bandung, di sela libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung peran ruang kreatif daerah sebagai etalase nasional bagi produk dan karya kreatif lokal.
Dua lokasi yang dikunjungi, yakni Braga Grey Art dan Tahilalats Store di kawasan Braga, dinilai menjadi ruang utama showcase sekaligus titik distribusi produk ekonomi kreatif. Di lokasi tersebut, Menteri Riefky berdialog dengan para pelaku ekonomi kreatif lintas subsektor yang menyampaikan berbagai aspirasi terkait penguatan ekosistem ekraf di daerah.
Menurut Riefky, Kementerian Ekonomi Kreatif berperan sebagai akselerator dan enabler bagi pegiat ekonomi kreatif di daerah melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, dan lembaga keuangan. Strategi ini diarahkan agar karya dan kekayaan intelektual (IP) lokal dapat naik kelas, tidak hanya kuat di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar global.
“Ruang-ruang kreatif di daerah menjadi etalase penting bagi karya dan bisnis kreatif, sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota kreatif yang terus berkembang,” ujar Teuku Riefky saat berada di Bandung, Jumat (2/1).
Ia menambahkan, pemanfaatan IP lokal yang berkembang dari ranah digital ke ruang fisik, termasuk melalui kehadiran ritel kreatif berbasis IP, dinilai mampu memperluas interaksi langsung dengan konsumen. Hal ini sekaligus mendorong agar karya dan IP lokal semakin dikenal, diapresiasi, dan memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Selain kawasan Braga, Menteri Riefky juga meninjau Pasar Cihapit. Ia menegaskan peran strategis pasar kuliner dalam rantai nilai ekonomi kreatif. Sejumlah pelaku subsektor kuliner seperti Batagor Kahuripan, Toko Kopi Pasar Cihapit, dan Cerita Manis memanfaatkan momentum libur awal tahun untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperkenalkan produk kepada pengunjung.
Menurutnya, pasar kuliner menjadi titik penting terjadinya konsumsi dan transaksi produk lokal yang mampu mendorong perputaran ekonomi kreatif serta meningkatkan daya tarik wisata kota. Kehadiran pelaku subsektor fesyen dan ritel ekonomi kreatif di kawasan tersebut, seperti Damakara dan Gramars, turut memperkaya ragam produk kreatif yang ditawarkan kepada masyarakat.
Riefky menilai keberadaan berbagai subsektor dalam satu ruang pasar mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan pengalaman pengunjung. Aktivitas pasar ekonomi kreatif selama libur Nataru juga dinilai berkontribusi pada geliat pariwisata dan penguatan UMKM daerah.
“Melalui pasar ekonomi kreatif, produk dan bisnis lokal semakin dikenal dan dibeli masyarakat. Dari daerah inilah ekonomi kreatif akan tumbuh menjadi mesin pertumbuhan baru,” pungkas Teuku Riefky.





