PANGANDARAN, TINTAHIJAU.com — Nelayan di wilayah Pangandaran, Jawa Barat, menghadapi masa paceklik panjang sepanjang tahun 2025. Kondisi ini membuat hasil tangkapan merosot tajam dan memaksa para nelayan memutar otak demi mempertahankan mata pencaharian mereka.
Sepanjang tahun lalu, nelayan kerap pulang melaut dengan hasil minim. Jenis ikan yang paling sering tertangkap hanya dadawa, sementara ikan berukuran sedang semakin sulit ditemukan. Ironisnya, kelangkaan tersebut justru membuat harga ikan tertentu melambung tinggi di pasaran.
Suryo, nelayan Pantai Timur Pangandaran, mengaku merasakan langsung beratnya kondisi tersebut. Meski hasil tangkapan tidak menentu, ia tetap memilih melaut karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.
“Walaupun paceklik, tetap harus mencari ikan,” ujar Suryo saat ditemui, Kamis (15/1/2026).
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Suryo mengubah metode penangkapan. Ia tak lagi menggunakan jaring sirang yang mengambang di permukaan, melainkan beralih ke jaring tanam yang dipasang di dasar laut. Cara ini dinilai lebih efektif di tengah minimnya ikan permukaan.
“Kalau jaring tanam, ada potensi dapat ikan GT, mangmung, sampai kerapu,” katanya. Dengan metode tersebut, Suryo masih bisa memperoleh ikan layur dan montok meski jumlahnya terbatas. Saat ini, harga ikan layur mencapai Rp40 ribu per kilogram, tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi serupa dialami Aef Nursaefudin (42), nelayan yang biasa beraktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) PPI Cikidang. Menurutnya, sepanjang 2025 paceklik terasa paling panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Ikan yang masih bertahan itu mangmung, yang lain hampir tidak ada,” ujarnya.
Aef menduga cuaca ekstrem dan ketidakstabilan suhu laut menjadi penyebab utama minimnya hasil tangkapan. Seperti Suryo, ia juga beralih menggunakan jaring tanam untuk memperoleh ikan lendra, GT, dan kerapu.
Ia menyebutkan, salah satu tanda paceklik adalah ketika nelayan menjual ikan langsung ke bakul tanpa melalui pelelangan. Kondisi ini biasanya diikuti lonjakan harga. Bahkan, ikan dadawa yang semakin langka dapat dijual hingga Rp800 ribu sampai Rp1 juta per kilogram.
Sementara itu, Dinas Kelautan Perikanan dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Kabupaten Pangandaran mencatat penurunan signifikan hasil tangkapan ikan sepanjang 2025. Hingga November, total tangkapan hanya mencapai 930 ton, jauh di bawah capaian tahun-tahun sebelumnya.
Fungsional Pengelola Produksi Perikanan Tangkap DKPKP Pangandaran, Mega, mengatakan pada 2023 total tangkapan mencapai 2.800 ton, turun menjadi 2.300 ton pada 2024, dan kembali merosot tajam pada 2025.
“Cuaca buruk di akhir tahun membuat nelayan tidak berani melaut. Selain itu, keterbatasan alat tangkap membuat nelayan rata-rata hanya mampu melaut sejauh 2 hingga 4 mil,” kata Mega.
Berdasarkan data DKPKP, hasil tangkapan terendah terjadi pada September 2025 dengan hanya 52 ton, sementara puncak tangkapan tercatat pada Juli 2025 sebesar 191 ton. Kondisi ini menunjukkan beratnya tantangan yang dihadapi nelayan Pangandaran di tengah perubahan cuaca dan keterbatasan sarana melaut.





