FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Pakar Jelaskan Modus Peretasan yang Terjadi Pada Awak Narasi - (2)

Indeks Artikel





Lebih lanjut, cara yang paling mudah adalah memalsukan dokumen KTP untuk kemudian meminta pergantian SIM card.

"Mereka bisa mengaku sebagai pemilik nomor dengan memalsukan KTP sesuai registrasi terdaftar tadi. Ini sangat memungkinkan karena ada data bocor registrasi sim card sebelumnya, jadi bisa digunakan," ujarnya.

Tak ketinggalan, kata Pratama, pelaku peretasan juga bisa melibatkan pihak ketiga untuk mendapatkan OTP. Hal yang bisa dilakukan adalah berpura-pura menjadi kasir minimarket.

"Jadi pelaku tidak perlu mengirimkan pesan penipuan untuk meminta OTP ke target, hal ini yang sering dilakukan oleh para penipu dengan mengaku kasir minimarket dan meminta OTP.

BACA JUGA:
Putin Berikan Kewarganegaraan Rusia Pada Mantan Kontraktor Keamanan AS, Edward Snowden

"Saya sendiri pernah menjadi korban peretasan telegram dan Whatsapp. Sempat diambil alih pelaku, jadi OTP yang harusnya masuk ke device saya diambil oleh pelaku lebih dahulu dan tidak masuk ke device saya. Namun akun bisa saya ambil lagi karena mengaktifkan two factor authentication atau two step verification. Dalam kasus saya, para pelaku tidak meminta OTP, karena sepertinya mereka mempunyai akses untuk mendapatkan OTP. Karena itu perlu dilakukan cek ke layanan pihak ketiga yang membantu OTP provider telekomunikasi," kata Pratama.

Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk mencegah aset digital kita diambil lewat cara takeover via pergantian sim card di provider atau intersept di provider. Minimal kita mengaktifkan two factor authentication di aplikasi pesan instant dan media sosial. Sehingga saat nomor kita diambil alih pihak lain, mereka belum tentu bisa login. Di beberapa aplikasi bahkan sudah secara default kita diminta memasukkan PIN tambahan selain password dan OTP (One Time Password), jadi ada pengamanan tambahan.

"Jadi untuk menghindari peretasan Whatsapp dan media sosial lainnya, minimal kita harus mengaktifkan two faktor authentication atau two step verification pada semua akun medsos dan pesan instant yang kita miliki. Selain itu jangan lupa memasang anti virus, anti malware pada smartphone kita," tuturnya.

Pratama juga mengakui pernah menjadi korban peretasan. Namun ia berhasil mengambil kembali akun media sosialnya karena menerapkan two factor authentification.

"Namun akun bisa saya ambil lagi karena mengaktifkan two factor authentication atau two step verification. Dalam kasus saya, para pelaku tidak meminta OTP, karena sepertinya mereka mempunyai akses untuk mendapatkan OTP. Karena itu perlu dilakukan cek ke layanan pihak ketiga yang membantu OTP provider telekomunikasi," kata Pratama.

Sumber: CNN Indonesia

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.