Megapolitan

Tolak Ultimatum Trump, Iran Tuntut Ganti Rugi Perang untuk Buka Selat Hormuz

×

Tolak Ultimatum Trump, Iran Tuntut Ganti Rugi Perang untuk Buka Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Presiden Iran Massoud Pezeshkian di Teheran | Foto: Iranian Presidency/ZUMA/picture alliance

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Ketegangan di Timur Tengah terus memuncak menyusul keengganan Iran untuk tunduk pada ultimatum terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Alih-alih membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital bagi pasar minyak dan gas global—Teheran justru mengajukan syarat ketat dan memperluas serangan militer ke sejumlah negara Teluk.

Berikut adalah rangkuman perkembangan situasi terkini berdasarkan laporan terbaru:

Syarat Pembukaan Selat Hormuz dan Rencana Tarif

Rezim Iran bersikeras tidak akan membuka Selat Hormuz tanpa syarat. Mehdi Tabatabaei, pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran Massoud Pezeshkian, menegaskan bahwa selat tersebut hanya akan dibuka “jika kerusakan akibat perang sepenuhnya dikompensasi dari sebagian biaya transit dalam kerangka tatanan hukum baru.”

Lebih lanjut, Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengklaim kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut. Mereka merencanakan penerapan sistem tarif baru dan menegaskan bahwa Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel.”

Ultimatum Trump dan Ancaman Kehancuran

Kegeraman Iran ini dipicu oleh pernyataan kasar Presiden Donald Trump di platform Truth Social pada Minggu (05/04). Trump memberikan batas waktu hingga Selasa (07/04) pukul 20.00 waktu Washington bagi Teheran untuk membuka selat tersebut. Ini merupakan penundaan ultimatum yang ketiga kalinya.

“Jika mereka tidak melakukan apa pun hingga Selasa malam, tidak akan ada pembangkit listrik atau jembatan yang tersisa,” ancam Trump dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal.

Eskalasi Konflik dan Kematian Pejabat Intelijen Iran

Di tengah memanasnya retorika, Garda Revolusi Iran melaporkan tewasnya Kepala Divisi Intelijen mereka, Majid Khadami, dalam sebuah serangan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa militer Israel telah “menyingkirkan” Khadami, yang dituduh bertanggung jawab langsung atas serangan roket mematikan terhadap warga sipil Israel.

Sebagai balasan, Iran mengancam akan memperluas area konflik. Ali Akbar Velayati, penasihat kebijakan luar negeri bagi Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa jalur pelayaran di luar Selat Hormuz—termasuk Selat Bab al-Mandab di Laut Merah yang menuju Terusan Suez—dapat terancam jika AS dan Israel meningkatkan serangan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga mengingatkan via platform X bahwa “langkah-langkah ceroboh” dapat membakar seluruh kawasan.

Rentetan Serangan Drone di Negara-Negara Teluk

Pada saat yang bersamaan, Iran meluncurkan gelombang serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang menyasar infrastruktur sipil di beberapa negara Teluk:

  • Kuwait: Mengalami kerusakan paling parah. Fasilitas minyak dan petrokimia milik negara terbakar. Dua fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air laut terpaksa dihentikan operasinya akibat kerusakan material yang signifikan. Serangan juga merusak gedung pemerintah di Kuwait City dan melukai enam warga sipil di kawasan permukiman.
  • Bahrain: Serangan drone memicu kebakaran pada tangki penyimpanan milik perusahaan energi negara, namun berhasil dipadamkan.
  • Uni Emirat Arab (UEA): Pelabuhan Khor Fakkan di dekat pintu masuk Selat Hormuz menjadi sasaran. Empat orang terluka akibat jatuhnya pecahan proyektil yang berhasil dicegat. Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) juga mencatat insiden jatuhnya proyektil di dekat kapal kontainer di pelabuhan tersebut.

Upaya Rencana Perdamaian Menemui Jalan Buntu

Menurut laporan Axios, AS, Iran, dan mediator regional sedang mengupayakan langkah terakhir untuk merundingkan gencatan senjata selama 45 hari guna mencegah eskalasi yang lebih dramatis.

Pakistan dilaporkan telah mengajukan proposal dua tahap kepada Washington dan Teheran: gencatan senjata segera yang diikuti dengan perjanjian komprehensif. Meski pejabat Iran mengonfirmasi telah menerima rencana tersebut, Reuters melaporkan bahwa Republik Islam tersebut menolak menyetujui gencatan senjata sementara dan menolak membuka Selat Hormuz di bawah tekanan.


Latar Belakang: Konflik terbuka ini pecah sejak Amerika Serikat dan Israel memulai serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Iran terus merespons dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel, negara-negara Teluk, serta fasilitas AS di kawasan tersebut.