FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Corona dan Ancaman Bencana Motivasi Belajar Siswa

Masih tingginya angka kasus penambahan jumlah reaktif corona, berimbas pada tidak menentunya proses pelaksanaan pendidikan, bahkan hingga hari ini pemerintah masih mencari formula bentuk pembelajaran yang dianggap paling tepat. Sudah 4 bulan anak-anak kita belajar dengan menggunakan model dalam jaringan (Daring) atau pembelajaran dari rumah melalui media telekomunikasi.

Model pembelajaran dari rumah dengan metode daring diakui atau tidak ternyata tidak berjalan dengan mulus, banyak sekali kendala yang dihadapi baik oleh siswa maupun guru pada pelaksanaannya, hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, dan kualitas pembelajaran akan sangat menentukan pada capaian atau target pendidikan itu sendiri. Walaupun Menteri Pendidiakan sudah berkali-kali menyampaikan bahwa capaian kurikulum tidak dijadikan target pendidikan di masa pandemi ini, namun pembelajaran tetap harus memiliki target yang jelas.

Ada hal yang harus diwaspadai yang jeuh lebih berbahaya dari sekedar target kurikulum, dan jika dibiarkan dalam kondisi yang lama terus menerus dikhawatirkan akan melahirkan bencana baru dalam pendidikan, adalah turunnya atau bahkan tidak mustahil jika berlarut-larut tanpa treatment yang tepat dapat mengakibatkan hilangnya motivasi belajar pada diri anak.

Motivasi belajar pada anak-anak kita jauh lebih penting dari target kurikulum, tak dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan masa depan negeri kita jika anak-anak kita hari ini mengalami lost motivation untuk belajar. Mungkinkah hal ini dapat terjadi ? sangat mungkin jika pemerintah tidak segera menemukan formulasi metode belajar yang paling efektif.

OPINI LAINNYA:

[OPINI] Membangun Daya Saing Bisnis di Era Revolusi Industri 4.0

[OPINI] Menjadikan Sekolah Zona Aman Bagi Anak

[OPINI] 5 Kunci Keberhasilan Belajar Jarak Jauh


Model belajar daring yang hari ini dilaksanakan oleh sekolah khususnya pada sekolah dasar masih dirasa banyak sekali kekurangannya, benar jika ada yang berpendapat kalau pembelajaran daring atau on line bisa dibuat sangat menarik dan tetap menjaga motivasi belajar bagi anak, namun seperti apa bentuknya? jika pembelajaran daring disajikan semenarik game on line atau dikemas dalam berbagai aplikasi interaktif yang menarik seperti media sosial dan games, didukung oleh konten-konten yang didesain indah dan menantang dalam bentuk video interaktif, quizz dll, kemudian didukung pula oleh sarana video conference dan voice call yang memadai serta dapat diaskes oleh semua siswa dan guru, mungkin iya pembelajaran on line seperti ini dapat lebih maksimal dan dapat menjaga motivasi belajar siswa dalam rentang waktu yang panjang.

Fakta di lapangan selama 4 bulan anak mengikuti pembelajaran daring, mulai banyak anak yang bosan dan dilanda kejenuhan. Bahkan walau gurunya sudah berusaha menyajikan pembelajaran yang dianggap cukup menyenangkan, apalagi jika masih banyak guru yang dalam pelaksanaan pembelajaran daring, hanya memberikan parade intruksi mulai mengecek kehadiran kemudian meminta anak membaca buku atau mengakses sesuatu di internet, setelah itu memberi tugas merangkum atau yang sejenisnya. Jika hal ini terus-terusna berulang setiap hari maka dalam waktu satu pekan saja siswa sudah mulai merasa bosan.

BACA JUGA:

[OPINI] Corona dan Nasib Dunia Pendidikan Kita

[OPINI] Ketika Sekolah Tak Lagi di Sekolah

[OPINI] New Normal, Literasi Media, dan Gelombang Kedua

Motivasi belajar hal yang sangat penting yang harus ada dalam proses pembelajaran, bahkan hal yang harus pertama kali guru lakukan dalam pembelajaran tatap muka saja adalah bagaimana menghadirkan motivasi belajar siswa, hal ini harus dilakukan sebelum pembelajaran itu dimulai. Mau sehebat apapun gurunya menyampaikan materi ajar, sebagus apapun materi ajarnya, jika anak sebagai orang yang harus menerima pelajaran tidak memiliki motivasi untuk belajar, tidak memiliki ketertarikan untuk belajar maka semuanya akan sia-sia belaka.

Pembelajaran daring kita hari ini masih jauh kalah menariknya dari games on line yang ada di dunia maya, baik konten maupun penyajiannya. Belum lagi konten-konten gadget dan televisi yang tidak mengandung muatan pendidikan pun jauh lebih menarik dan membuat anak lebih tertarik membuka dan memainkannya dari pada mengikuti pembelajaran daring yang digelar oleh sekolahnya.

Pemerintah dan sekolah harus mulai mencari solusi dengan serius, tentang bagaimana pembelajaran di tahun ajaran baru yang tinggal beberapa waktu lagi harus dimulai, apakah akan terus dilaksanakan secara daring? Dengan konsekwensi harus menyediakan akses dan layanan yang menarik, serta meningkatkan kualitas kompetensi guru dalam penguasaan IT. Atau tetap akan memaksakan pembelajaran daring/on line seperti yang selama ini sudah dilaksanakan, dengan resiko perlahan namun pasti akhirnya anak-anak kita kehilangan motivasi belajar dan tidak menutup kemungkinan ada yang bahkan memusuhi pelajaran.

Pembelajaran tatap muka adalah solusi paling konkrit dan sederhana dari masalah resiko adanya lost motivation ini, maka sesulit apapun kita harus mencari formulasi yang paling baik untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka ini kembali. Masih ada waktu sebelum tahun ajaran baru dimulai, saatnya kita mulai mendesain pembelajaran New Normal dalam bentuk tatap muka namun tetap meminimalisir resiko penyebaran corona. Selalu ada pilihan terbaik diantara pilihan-pilihan sulit baig mereka yang sungguh-sungguh mengkontruksinya.

Dadan Hermawan, M.Pd, Penulis adalah Guru SDN Pelita Karya dan Trainer ASC & RBTI Subang

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Kemenag Subang Bakal Bangun International Boarding School https://t.co/g0wRJFyThP
Kapan Sebenarnya Waktu Terbaik untuk Bercinta? https://t.co/Az2UHTgfu3
Kasus Covid-19 di Subang Bertambah 7 Orang, 2 Orang Diantaranya ASN https://t.co/VgzrjZW5GC
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter