FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Hindari Pemanasan Global, Bill Gates Akan "Tutup Matahari" Menggunakan Ini

Indeks Artikel




SUBANG, TINTAHIJAU.com - Pemanasa global memang telah terjadi, akibatnya sejumlah daerah dipermukaan bumi ini menjadi kekeringan, namun disisi lain es di Kutub Utara menjadi mencari dan permukaan air laut menjadi naik.

Tidak hanya itu, efek lain yang juga diakibatkan oleh pemanas global iniialah terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan sejumlah kerugian terjadi, termasuk menurunnya hasil pertanian dan perkebunan di hampir seluruh dunia. Belum lagi munculnya berbagai penyakit yang muncul pada manusia serta kepunahan hewan.

Untuk mengurangi dampa pemanasan global tersebut, Bill Gates akan membantunya dengan cara "menutupi matahari".

"Kamu tidak bisa menutupi matahari dengan jari, tapi mungkin dengan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa," kata Bill Gates kepada Forbes, seperti dikutip dari Entrepreneur, Kamis (28/1/2021).

Rupanya, Bill Gates akan ikut mendanai sebuah proyek yang bertujuan meredupkan sinar matahari guna 'mendinginkan' Bumi.

Proyek penelitian ini bernama Eksperimen Gangguan Terkendali Stratosfer alias SCoPEx. Penelitian dikerjakan oleh para ilmuwan dari Universitas Harvard.

Tujuannya adalah untuk memantulkan sinar matahari di luar atmosfer Bumi. Solusi ini akan dicapai dengan cara menyemprotkan berton-ton kalsium karbonat yang tidak beracun (CaCO3) ke atmosfer.

"SCoPEx adalah eksperimen ilmiah untuk memajukan pemahaman tentang aerosol stratosfer yang mungkin relevan untuk rekayasa geosurya," demikian bunyi tulisan di laman proyek SCoPEx.

Gunakan Balon



Proyek ini akan mulai dengan dilakukannya tes, antara lain pelepasan balon dengan peralatan ilmiah. Balon ini tidak berisi CaCO3 tetapi berfungsi sebagai uji manuver dan untuk eksplorasi komunikasi dan sistem operasi.

"Kami berencana menggunakan balon yang melayang tinggi untuk mengangkat paket instrumen, dengan ketinggian 20Km ke atmosfer. Setelah ditempatkan, sejumlah material akan dilepaskan untuk menciptakan massa udara yang terganggu dengan panjang sekitar 1Km dan diameter 100 meter," tulis penjelasan penelitian tersebut.

"Kemudian kami akan menggunakan balon yang sama untuk mengukur perubahan yang dihasilkan pada massa udara yang terganggu, termasuk perubahan kepadatan aerosol, kimia atmosfer, dan hamburan cahaya," tulis penjelasan di laman SCoPEx.

Ditentang Karena Dianggap Akan Perparah Pemanasan Global

Forbes melaporkan, penentang ilmiah dari proyek ini percaya, geo-engineering matahari bisa membawa risiko yang tak terelakkan dan perubahan ekstrim pada pola cuaca, sehingga tidak berbeda dengan tren pemanasan saat ini.

Mereka juga menjelaskan, pemerhati lingkungan takut bahwa perubahan dramatis dalam strategi mitigasi ini justru menjadi lampu hijau bagi gas rumah kaca untuk terus dipancarkan tanpa ada variasi dalam pola konsumsi saat ini.

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jadwal Sholat Fardhu untuk Wilayah Majalengka Pada 23 Oktober 2021 https://t.co/TcVFRJoKHB
Jadwal Sholat Fardhu untuk Wilayah Subang Pada 23 Oktober 2021 https://t.co/q7oFJkFzbo
Jawaban Menohok Wanita Indonesia yang Menikah dengan Pria Asing Saat Netizen Bilang Tak Pantas https://t.co/Wu24Eg5UJO
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter