Olahraga

Kenangan Indah Persib Juara Perserikatan 1986, Saat Maung Bandung Mengakhiri Penantian Panjang

×

Kenangan Indah Persib Juara Perserikatan 1986, Saat Maung Bandung Mengakhiri Penantian Panjang

Sebarkan artikel ini
Skuad Persib 1986 | Foto: KOMPAS

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Tanggal 11 Maret 1986 menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi Persib Bandung. Di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Maung Bandung akhirnya kembali merebut gelar juara nasional Divisi Utama Perserikatan setelah menundukkan Perseman Manokwari dengan skor tipis 1–0. Gol tunggal kemenangan dicetak Djadjang Nurdjaman, nama yang kemudian abadi dalam sejarah sepak bola Bandung.

Kemenangan itu bukan sekadar hasil pertandingan. Bagi ribuan bobotoh yang memadati stadion, gelar tersebut menjadi pelepas dahaga panjang setelah penantian seperempat abad sejak gelar terakhir pada 1961. Sejak pagi, Jakarta sudah dipenuhi lautan biru. Ribuan pendukung Persib datang berbondong-bondong dari Bandung menggunakan bus, truk, mobil pribadi, hingga sepeda motor. Stadion Senayan berubah menjadi rumah kedua bagi Persib.

Skuad Persib 1986 | Foto: KOMPAS
Berdiri dari kiri : Jajang Nurjaman, Wawan Karnawan, Sobur, Ajat Sudrajat Robby Darwis, Iwan Sunarya.
Jongkok : Sukowiyono, Suryamin, Suhendar, Adeng Hudaya, Ade Mulyono

Ketika peluit akhir berbunyi, ledakan kegembiraan tak terbendung. Bobotoh tumpah ruah di sekitar stadion hingga Jalan Sudirman dan kawasan Semanggi. Lagu kemenangan, sorak-sorai, dan bunyi klakson kendaraan bersahutan sepanjang malam. Arus kepulangan menuju Bandung berubah menjadi pawai raksasa yang spontan.

Kemeriahan berlanjut di jalur Puncak hingga Cipanas. Kawasan yang biasa menjadi tempat singgah itu malam itu berubah menjadi pesta rakyat. Konvoi kendaraan memenuhi jalan, suara knalpot menggema tanpa henti, sementara warung-warung dan rumah makan memilih tutup lebih awal karena kawasan dipenuhi bobotoh yang merayakan kemenangan. Hampir di setiap sudut terdengar yel-yel Persib diteriakkan penuh kebanggaan.

Namun perjalanan menuju tangga juara bukan perkara mudah. Putaran enam besar saat itu mempertemukan Persib dengan tim-tim kuat seperti Persija Jakarta, PSMS Medan, PSIS Semarang, PSM Makassar, dan Perseman Manokwari. Persib juga masih dibayangi trauma kegagalan pada final 1983 dan 1985 ketika harus mengakui keunggulan PSMS Medan.

Situasi semakin menegangkan ketika Persib harus menghadapi Perseman dalam laga penentuan menuju final. Saat itu Persija sudah berada di posisi lebih aman dan optimistis lolos. Persib membutuhkan kemenangan besar untuk membuka jalan ke partai puncak. Di luar dugaan, pertandingan berlangsung panas dan berakhir kontroversial setelah kubu Perseman melakukan walk out. Persib dinyatakan menang 6–0 dan melaju ke final.

Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu episode paling ramai dibicarakan dalam sejarah Perserikatan. Banyak yang menilai atmosfer sepak bola nasional kala itu tak bisa dilepaskan dari besarnya animo penonton. Kehadiran Persib di final diyakini menjadi magnet utama yang mampu menghadirkan lautan manusia ke Senayan. Dugaan itu terbukti. Pada laga puncak, tribun stadion penuh sesak oleh bobotoh. Bahkan penonton meluber hingga lintasan atletik stadion.

Di tengah tekanan besar itulah Persib tampil tenang pada grand final. Gol Djadjang Nurdjaman menjadi penentu kemenangan sekaligus mengakhiri penantian panjang masyarakat Bandung akan gelar juara nasional. Nama-nama seperti Robby Darwis, Ajat Sudrajat, Adeng Hudaya, Suryamin, Ade Mulyono, Sukowiyono, hingga kiper Wawan Hermawan kemudian dikenang sebagai generasi emas Persib era Perserikatan.

Skuad asuhan Nandar Iskandar saat itu dikenal sebagai hasil pembinaan jangka panjang yang kuat. Banyak pemain lahir dari proses penggemblengan pelatih legendaris Marek Janota. Mereka bukan hanya membentuk tim tangguh, tetapi juga melahirkan karakter permainan Persib yang keras, disiplin, dan penuh semangat juang.

Gelar tahun 1986 menjadi tonggak kebangkitan Persib di pentas nasional. Setelah itu, Persib kembali menorehkan kejayaan pada musim 1989/1990 dan 1993/1994 di era Perserikatan, lalu melanjutkan tradisi juara di era Liga Indonesia dan Liga 1.

Empat dekade telah berlalu, tetapi kenangan tentang malam kemenangan di Senayan tetap hidup dalam ingatan bobotoh. Bukan hanya tentang trofi, melainkan tentang kebersamaan, perjalanan panjang, dan kebanggaan yang menyatukan Jawa Barat dalam satu warna biru.

Sejarah Biru terus hidup. Bravo Persib!

Penulis: Kin Sanubary