SUBANG, TINTAHIJAU.com – Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD baru-baru ini memberikan penjelasan mengenai lima kriteria pemimpin yang dapat diambil dari perspektif fikih Islam.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Mahfud MD dalam Halaqoh dan Dialog Kebangsaan di Pondok Pesantren An Nur, Ngrukem, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Rabu, 24 Januari 2024.
Menurut Mahfud, dalam Al Ahkam as Sulthaniyah, syarat untuk memilih pemimpin terdiri dari lima aspek penting.
Pertama, pemimpin harus cerdas atau alim. Mahfud mengungkapkan bahwa sifat fathonah, yang merujuk pada kebijaksanaan dan pengetahuan, harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Ia menambahkan bahwa pemimpin yang alim harus memahami tugasnya dengan baik.
Aspek kedua adalah keadilan. Mahfud menyatakan bahwa keadilan dalam Islam berarti tidak membedakan kelompok mana pun dalam hubungan antarmanusia. Pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan tidak memandang suku atau agama seseorang. Mahfud menekankan pentingnya pemimpin yang berani dan tidak penakut, yang tahu apa yang adil namun tetap berani melaksanakannya.
Syarat selanjutnya yang dijelaskan oleh Mahfud adalah sederhana, yaitu pemimpin harus hidup dengan tidak berlebihan dan secukupnya. Poin keempat adalah kesehatan, baik secara jasmani maupun rohani. Pemimpin yang sehat, menurut Mahfud, dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik.
Dalam sambutannya, Mahfud juga berbagi kenangan saat dipilih oleh Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Menteri Pertahanan. Mahfud mengungkapkan bahwa saat itu, Gus Dur tiba-tiba memanggilnya dan menunjuknya sebagai menteri. Mahfud sempat bertanya dari mana Gus Dur mengetahui tentang dirinya, dan Gus Dur menjawab bahwa Mahfud sering dijemput ketika berkunjung ke Jogja.
Mahfud menceritakan bahwa meskipun pada saat itu ia hanya seorang dosen muda, berusia 26 tahun, Gus Dur melihat potensi dalam dirinya. Ini merupakan salah satu contoh bagaimana Allah memberikan karunia kepada seseorang.
Mahfud menegaskan bahwa jika pada masa Orde Baru tidak jatuh, tindakan protesnya mungkin membuatnya diincar oleh pihak berwajib. Namun, berkat karunia Allah, ia dipilih menjadi menteri pada masa pemerintahan Gus Dur.





