Oleh: Kin Sanubary
SUBANG, TINTAHIJAU.com — Jepang pertama kali hadir dalam hidup Anni Iwasaki bukan lewat perjalanan, melainkan lewat cerita. Cerita-cerita yang beredar dari mulut ke mulut di ruang keluarga, tentang masa ketika sirene meraung di malam hari dan lampu minyak harus segera dipadamkan. Tentang pesawat-pesawat yang melintas rendah di atas desa, membawa beras dari Pulau Jawa menuju Jepang.
Kisah itu dituturkan ibu, paklik, dan pakdenya—tentang pendudukan militer Jepang yang meninggalkan jejak panjang di desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kediri, Jawa Timur. Salah satu rumah milik nenek Anni bahkan pernah dijadikan kantor tentara Jepang. Dari balik temboknya, sering terdengar teriakan orang-orang yang ditangkap. Tidak pernah jelas kesalahannya. “Ya embuh,” kata orang-orang desa kala itu.
Namun kehidupan desa tidak sepenuhnya ditelan ketakutan. Ada tahlilan rutin setiap Jumat, makan bersama para pekerja, dan makanan yang dibawa pulang untuk keluarga. Keluarga Anni hidup dari sawah dan kebun, memelihara ternak—ayam, bebek, kambing, hingga sapi dan kerbau. Mereka mengelola toko kecil yang menjual hasil bumi, diangkut dengan sepeda bojong dan cikar, gerobak kayu yang ditarik sapi.
Kenangan itu menjadi fondasi awal cara Anni memandang Jepang: sebuah bangsa yang pernah hadir sebagai penjajah, namun juga terjalin erat dalam sejarah keluarganya.
Ibu, Pendidikan, dan Kota Pelabuhan
Tahun 1959, Anni masih duduk di kelas 1 sekolah dasar ketika ia pindah ke Surabaya bersama ibu, kakak perempuan, dan adik laki-lakinya. Orang tuanya telah berpisah. Sang ibu bekerja di sebuah bank Jepang, menangani tata buku—pekerjaan yang pada masa itu jarang dijalani perempuan.
Dari delapan bersaudara, hanya ibu Anni yang sempat mengenyam pendidikan formal hingga kelas 3 SD. Selebihnya bertani dan berdagang. Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh daya juang dan keteguhan.
“Setiap Lebaran selesai tahlilan, kami menyalakan kembang api. Ramai sekali,” kenang sang ibu suatu hari. Cerita itu selalu disampaikannya dengan wajah berbinar—sebuah kebahagiaan sederhana yang kelak menjadi jangkar nilai bagi Anni: kebersamaan, kesabaran, dan rasa cukup.

Barat, Modernitas, dan Cita-Cita Terbang
Jauh sebelum menetap di Jepang, Anni lebih dulu bersentuhan dengan budaya Barat. Awal 1970-an, Indonesia tengah dilanda gelombang modernitas. Lagu-lagu Elvis Presley, The Beatles, Shirley Bassey, hingga Ricky Nelson mengalun dari radio. Film-film Hollywood—koboi dan spaghetti western—mengisi bioskop dan imajinasi generasi muda.
Anni menghafal lagu-lagu berbahasa Inggris dan memimpikan satu hal: menjadi pramugari. Ia ingin terbang, melihat dunia, mendarat di banyak kota. Setelah lulus SMA, ia hijrah ke Bandung dan bekerja sebagai resepsionis di Hotel Bumi Asih.
Di sanalah sebuah pertemuan sederhana berubah menjadi titik balik hidup. Seorang tamu asing yang menginap jangka panjang kerap mengajaknya berbincang. Namanya Iwasaki, warga Jepang berusia 29 tahun—jauh dari citra salaryman yang lazim kala itu.
Gayanya santai, berkacamata hitam, menyukai bossa nova dan lagu-lagu country Amerika. Ia belajar bahasa Indonesia dari Anni; sebaliknya, Anni mengasah bahasa Inggris lewat percakapan dengannya. Keduanya menemukan kesamaan: keterbukaan, rasa ingin tahu, dan ketertarikan pada kehidupan modern.
Bandara Narita dan Patahannya Imajinasi Lama
Ketika Iwasaki kembali ke Jepang, komunikasi mereka tak terputus. Kartu pos tentang bunga sakura dan Gunung Fuji datang silih berganti. Setahun kemudian, mereka bertemu kembali di Jakarta. Tanpa banyak basa-basi, Iwasaki melamar Anni.
Agustus 1974, Anni terbang ke Tokyo untuk pertama kalinya. Di Bandara Narita, ia tertegun. Jepang yang ada di hadapannya bersih, rapi, maju, dan modern—bahkan terasa lebih “Americanized”. Tidak kaku. Tidak menyeramkan. Sama sekali berbeda dari Jepang era perang yang selama ini hidup dalam ingatannya.
Desember 1974, mereka menikah di Catatan Sipil Jakarta. Tak lama kemudian, Anni diboyong ke Tokyo—memulai hidup baru sebagai diaspora Indonesia di Negeri Sakura.
Belajar Menerima, Belajar Bertahan
Adaptasi bukan perkara mudah. Anni menyadari satu hal penting: untuk melanggengkan pernikahannya, ia harus menerima kenyataan bahwa ia datang dari latar peradaban yang berbeda—bahkan tertinggal dibanding Jepang. Penerimaan itu bukan bentuk kekalahan, melainkan pintu masuk untuk belajar.

Anni menikah dengan seorang pria Jepang bernama Yasuhiro Iwasaki, pernikahannya melahirkan tiga anak laki-laki yakni; Rio Iwasaki, lahir di Tokyo 15 Januari 1976. Alumni. Universitas Asia, Tokyo, Fakultas Hubungan International. Yudo Iwasaki, lahir di Surabaya 14 Agustus 1979. Alumni Universitas Tokyo, Tokyo, Fakultas Ekonomi. Dan Rido Iwasaki, lahir di Jakarta 10 November 1981, Alumni Universitas Obirin Tokyo, Fakultas Hubungan International.
Ia memahami bahwa Jepang pascaperang bukanlah Jepang Kekaisaran Militer. Negeri ini pernah hancur total—dibombardir, dijatuhi bom atom, memaksa banyak keluarga mengungsi ke utara. Namun dari kehancuran itu, Jepang memilih membangun ulang dirinya secara kolektif.
Kaisar menjadi simbol, bukan pusat kekuasaan. Pemerintahan dijalankan dengan disiplin dan tanggung jawab publik. Praktik-praktik yang dianggap merusak—seperti prostitusi dan korupsi—tidak hanya dilarang lewat hukum, tetapi dicegah lewat sistem: biaya hidup yang terukur, infrastruktur memadai, dan sarana publik yang layak.
Di tengah keteraturan itu, Anni merawat nilai-nilai Indonesia: kesabaran, kemampuan menerima perbedaan, dan kebiasaan hidup berdampingan. Nilai-nilai itu berdialog dengan budaya Jepang yang menjunjung disiplin dan tanggung jawab sosial.
Bagi Anni, hidup sebagai diaspora tidak berhenti pada adaptasi personal. Ada tanggung jawab lain: menjadi penghubung antarbangsa. Namun ia sadar, peran itu tidak bisa berdiri sendiri.
Menurutnya, diaspora tidak akan berfungsi optimal sebagai jembatan jika hubungan antarnegara sedang tidak sehat. Ia menyinggung data resmi Kementerian Investasi/BKPM: realisasi investasi Jepang di Indonesia pada 2024 tercatat USD 3,46 miliar—turun sekitar 24,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka itu dibacanya sebagai sinyal merenggangnya kepercayaan.
Dalam situasi seperti itu, diaspora berada di ruang antara. Diharapkan menjadi duta budaya, tetapi sekaligus merasakan dampak hubungan bilateral yang melemah. Meski demikian, Anni percaya kontribusi tetap bisa dilakukan lewat hal-hal konkret: etos kerja, kejujuran, dan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Namun ia menegaskan, kerja diaspora membutuhkan fondasi yang kuat. Presiden dan pemerintah memegang peran kunci untuk memperbaiki dan merawat hubungan Indonesia–Jepang.
“Kalau hubungan negara membaik,” kata Anni, “diaspora bisa bergerak lebih leluasa. Barulah kami benar-benar menjadi jembatan—bukan sekadar simbol.”

Harapan dari Negeri Sakura
Bagi Anni Iwasaki, Jepang bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah ruang belajar tentang bagaimana sebuah bangsa bangkit dari kehancuran, membangun martabat kolektif, dan merawat masa depan bersama.
Dari Negeri Sakura, Anni terus menyimpan satu harapan yang tak pernah pudar: bahwa Indonesia pun mampu melakukan hal yang sama—belajar dari sejarah, merawat nilai, dan membangun peradaban dengan kesadaran bersama.





