Profil

Kisah Isal Nur Hidayatulloh, Pemuda Penjaga Alam dari Ciamis

×

Kisah Isal Nur Hidayatulloh, Pemuda Penjaga Alam dari Ciamis

Sebarkan artikel ini

CIAMIS, TINTAHIJAU.com – Di saat pemuda seusianya sibuk dengan gawai dan hiruk-pikuk kota, seorang pemuda asal Dusun Sukasirna, Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, memilih jalan yang sunyi namun berarti. Isal Nur Hidayatulloh (26) membuktikan bahwa kegigihan seorang diri mampu menggerakkan kesadaran kolektif untuk menyelamatkan lingkungan yang nyaris mati.

Lahir pada 10 Oktober 1999, Isal tumbuh dengan “karakter alam” yang kuat. Namun, ketenangannya terusik saat melihat Hulu Sungai Cimuntur dan Situ Lengkong mulai tercemar, serta perbukitan di sekitarnya gundul. Tak ingin berpangku tangan, sejak 2017 Isal memutuskan untuk turun langsung ke sungai dan menanam pohon di sumber-sumber mata air.

Dari Label “Gila” hingga Pengorbanan Kuliah

Perjuangan Isal tidaklah mulus. Di awal langkahnya, ia justru dianggap gila oleh sebagian warga. Penampilannya yang kerap membawa karung ke sungai membuatnya sempat dijuluki sebagai pemulung.

“Orang mengira saya pemulung, karena tiap hari bawa karung dan mainnya ke sungai,” kenang Isal.

Tekanan tidak hanya datang dari luar. Orang tuanya pun sempat khawatir akan masa depan putra mereka. Ayahnya, Ikin Sodikin, bahkan sempat mencarikan pekerjaan agar Isal memiliki penghasilan tetap. Namun, dengan lembut Isal menolak demi panggilan hati. Puncaknya pada tahun 2022, Isal mengambil keputusan berani untuk berhenti kuliah demi fokus merawat lingkungan. Baginya, alam adalah “kampus terbesar” tempat ia belajar ketekunan dan pengorbanan.

Gerakan Kolektif dan Dampak Nyata

Kerja keras tanpa gaji dan sorotan media itu perlahan membuahkan hasil. Melalui komunitas SISPALA GRILIS dan Paguyuban Sadar Lingkungan (PSL) yang didirikannya pada 2020, Isal mulai merangkul anak-anak muda lainnya.

Kini, perubahan fisik mulai terlihat nyata di Panjalu:

  • Sungai Cimuntur yang dulunya kotor kini berangsur jernih.
  • Gunung Sawal kembali hijau dengan ribuan pohon yang ditanam.
  • Ekosistem pulih, ditandai dengan kembalinya kelelawar “Buah Kai” yang sempat hilang.
  • Wisata Edukasi, kawasan Panjalu kini bertransformasi menjadi destinasi wisata lingkungan.

Hebatnya lagi, gerakan Isal menginspirasi lahirnya Peraturan Bupati Ciamis Nomor 27 Tahun 2021 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik—sebuah kebijakan yang lahir dari aksi nyata di lapangan, bukan sekadar diskusi di meja rapat.

Penghargaan Sebagai Bonus

Dedikasi Isal membawanya meraih sederet prestasi bergengsi, termasuk Pemuda Pelopor Ciamis 2023, Teladan Wana Lestari Nasional 2024, hingga Juara 2 Pemuda Pelopor Desa Nasional 2025.

Meski telah meraih berbagai penghargaan dan hadiah uang tunai jutaan rupiah, Isal tetap rendah hati. Bagi pemuda yang dulunya bergerak sendirian di sungai ini, melihat masyarakat kini ikut turun tangan adalah pencapaian tertinggi.

“Penghargaan hanyalah bonus. Yang penting, alamnya pulih dan masyarakatnya ikut bahagia,” pungkasnya.