Profil  

Mengenal Kimung, Pendobrak Literasi Musik dan Kultural di Indonesia

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Pecinta musik underground tanah air pasti tidak asing dengan nama lengkap Iman Rahman Anggawiria Kusumah, atau yang akrab disapa Kimung.

Kimung adalah tokoh muda yang menginspirasi, terutama dalam pengembangan literasi musik di lingkungan Bandung Bawah Tanah. Beliau adalah penggagas utama di balik keberhasilan literasi musik melalui inisiatif seperti Bandung Bawah Tanah, Burgerkill, dan komunitas Ujung Berung Rebels yang menjadi salah satu komunitas musik metal terbesar di Indonesia.

Pertemuan penulis dengan Kimung terjadi sekitar setahun yang lalu, saat Atap Class yang dipimpin olehnya terlibat dalam proyek pembuatan film dokumenter tentang GMR, sebuah stasiun radio rock legendaris di Bandung. Dari sana, kolaborasi berlanjut ke proyek pembuatan film dokumenter “Aktual of Aktuil,” yang mengulas perjalanan majalah musik Aktuil yang legendaris.

Kimung, dengan nama lengkap Iman Rahman Anggawiria Kusumah, bukanlah sosok yang asing dalam jagad musik underground Indonesia. Ia menjadi pelopor komunitas musik metal tertua dan terbesar di Indonesia, yaitu Ujungberung Rebels. Pada tahun 1995, Kimung bersama mendiang Eben mendirikan Burger Kill, sebuah band yang kemudian menjadi ikon dalam dunia musik metal di Indonesia. Selama lebih dari 30 tahun, Kimung konsisten dalam berkontribusi di berbagai grup musik, baik sebagai vokalis, bassist, maupun drummer.

Beberapa band yang pernah dibentuk dan disinggahi oleh Kimung mencakup Monster, Mockershit, Analvomit, Disinherit, Sonic Torment, Embalmed, dan banyak lagi. Kimung juga terlibat dalam proyek-proyek musik seperti Democracy Neighborhood, Skyline, Nicfit, hingga menjadi personel di beberapa band seperti The Outsiders, Rever B ‘n Revolver, Godbleed, The Devil & The Deep Blue, dan Karinding Attack.

Tak hanya berperan dalam dunia musik, Kimung juga aktif dalam dunia literasi dengan merintis “zine” pertama di Indonesia, yakni “Revograms Zine.” Pada tahun 2002, Kimung melanjutkan perjalanannya dengan merintis Zine Minor Bacaan Kecil, yang kemudian bertransformasi menjadi Minor Books pada tahun 2005. Minor Books menjadi sebuah penerbitan dan riset sejarah musik independen Indonesia.

Bukan hanya dalam bentuk tulisan, Kimung juga menghasilkan karya-karya dalam bentuk buku, seperti “Sejarah Lokal Cianjur” yang ditulis bersama Prof. Reiza Dienaputra dan Agusmanon Yuniardi M H. Kimung juga menghasilkan buku-buku lainnya seperti “Myself, Scumbag Beyond Life and Death” (2007), “Memoar Melawan Lupa” (2011), “Jurnal Karat, Karinding Attack, Ujungberung Rebels” (2011), dan “Ujungberung Panceg Dina Galur” (2013).

Pada tahun 2008, Kimung mendirikan band “Karinding Attack,” sebuah tonggak awal penelitiannya yang lebih mendalam terhadap kultur tradisional, khususnya Karinding. Perjalanan penelitian ini membawanya mengelilingi Jawa Barat dan Eropa, menghasilkan buku “Sejarah Karinding Priangan” pada tahun 2019.

Saati ini, Kimung bersama penulis lainnya dari Bandung tengah menggarap proyek besar, yaitu penulisan sejarah “Bandung Bawah Tanah.” Proyek ini direncanakan terdiri dari 11 buku dengan berbagai tema, seperti metal, punk, hardcore, hiphop, rock, pop, folk, musik elektronik, zine & media, merchandising, gigs, dan record label.

Tidak hanya sebagai musisi dan penulis, Kimung juga aktif mengelola rumah produksi dan lembaga pendidikan bernama “Atap Class.” Melalui Atap Class, Kimung berhasil menciptakan lingkungan kreatif yang menghasilkan berbagai karya-karya kreatif di berbagai bidang. Kesemuanya itu menjadikan Kimung bukan hanya sebagai tokoh musik, tetapi juga sebagai pionir dalam mengangkat literasi musik dan kultural di Indonesia.