Profil

Sonjaya Akbar, Suara yang Melekat Dihati

×

Sonjaya Akbar, Suara yang Melekat Dihati

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Menjadi penyiar radio bukan sekadar berbicara di depan mikrofon. Ia adalah seni menghadirkan keakraban, menyapa ribuan orang, namun terasa seperti berbincang dengan satu sahabat lama. Ketika pendengar merasa didengar, di situlah radio menemukan maknanya.

Filosofi itu dipahami betul oleh Sonjaya Akbar. Suaranya yang berat dan berkarakter telah lama menjadi bagian dari denyut keseharian pendengar radio di Bandung. Ia hadir bukan hanya sebagai penyampai informasi, melainkan sebagai teman perjalanan, penyemangat warga, sekaligus penguat bagi mereka yang sedang gamang.

Sonjaya Akbar lahir di Cirebon, 15 Agustus 1959. Kecintaannya pada dunia suara tumbuh sejak remaja. Pada 26 September 1982, ia menikah dengan Roselyne Sonjaya, perawat senior pensiunan RS Advent Bandung yang juga pendengar setianya sejak era 1980-an. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga orang putra dan delapan cucu. Putra pertama menetap di Jakarta, putra kedua tinggal dan bekerja di RS Loma Linda, California, Amerika Serikat, sementara putra ketiga berdomisili di Bandung.

Perjalanan Sonjaya di dunia radio dimulai pada 1979 di Radio Leo Arjawinangun, Cirebon. Di sana ia belajar mengenal mikrofon, pemancar, hingga etika siaran. Ia segera memahami bahwa radio bukan sekadar soal suara, melainkan seni menyapa, mendengar, dan menemani.

Langkah profesionalnya dimulai pada Agustus 1980 saat bergabung dengan Radio Ganesha Bandung di bawah pengelolaan Demas Korompis. Selama enam tahun, Bang Son sapaan akrabnya, tumbuh bersama radio tersebut dan dipercaya mengasuh sejumlah program, termasuk Top Hits Pop Indonesia, acara unggulan yang disiarkan oleh sekitar 100 radio swasta di berbagai daerah. Program ini mengantarkannya pada pengakuan sebagai salah satu penyiar terbaik di Jawa Barat.

Selepas dari Radio Ganesha, Sonjaya melanjutkan kiprah di Radio Lita (1987–1991). Selain bersiaran, ia juga aktif di balik layar melalui PRSSNI sebagai humas. Bagi Sonjaya, radio bukan semata profesi, melainkan ruang pengabdian.

Pada tahun 1992–1993, ia dipercaya mengelola Radio Rama, yang saat itu bertransformasi dari AM ke FM. Di tangannya, Radio Rama berkembang pesat hingga menjadi radio nomor satu di Bandung dengan identitas kuat sebagai radio dangdut yang membumi dan dekat dengan masyarakat, melalui slogan legendarisnya : Radio Rama, Dangdutmania.

Periode penting berikutnya berlangsung bersama Radio Mora (1999–2018). Bersama Monang Saragih, dosen semasa kuliahnya di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Sonjaya turut membesarkan Radio Mora sebagai radio talkshow dan penyuluhan hukum. Dari sinilah kepeduliannya pada edukasi publik menemukan bentuk nyata. Ia ikut menggagas Kopjaskum (Koperasi Jasa Hukum) bersama para penyiar senior Bandung, sebagai ikhtiar menghadirkan manfaat langsung bagi pendengar.

Keinginan untuk mandiri membawanya mendirikan LC FM (Liman Cooperatif) di Palimanan, Cirebon yang ia kelola selama sekitar lima tahun. Ia juga mengelola Radio Bravo AM di Bandung Barat. Dua radio ini menandai pergeseran perannya dari penyiar menjadi pengelola media.

Babak selanjutnya mempertemukannya dengan Radio Ardan Group milik Arifin Gandawijaya. Sonjaya dipercaya memanajeri dan membesarkan Radio Cosmo Bandung, sebelum kemudian bergabung dengan B-Radio.

Sejak tahun 2020 hingga kini, Bang Son kembali setia di ruang siar Radio Cakra, mengasuh program SOMASI (Solusi Masalah dan Informasi). Program ini merefleksikan karakter dirinya yang komunikatif, solutif, dan berpihak pada pendengar.

Setiap Minggu malam pukul 19.00-22.00 WIB, suara Bang Son kembali mengudara. Melalui SOMASI, ruang siar berubah menjadi ruang dialog. Warga menyampaikan kegelisahan, narasumber memberi penjelasan, dan solusi dicari bersama. Isu yang dibahas meliputi persoalan hukum, pelayanan publik, hingga suara masyarakat kecil yang kerap terpinggirkan.

Gaya bicara Bang Son dikenal lugas dan apa adanya, kadang keras, kadang blak-blakan. Ia percaya kejujuran adalah fondasi siaran. Kritik disampaikannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memperbaiki, dengan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat.’

Sepanjang kariernya, Sonjaya telah berkarya di berbagai media yaitu RRI Bandung, TVRI Bandung, Radio Ganesha, Lita FM, Rama, Radio Mora, Cosmo, B-Radio, LC FM Cirebon, hingga Bravo AM Bandung Barat. Puluhan tahun bergulat di dunia siaran menguatkan keyakinannya bahwa radio adalah sahabat setia masyarakat.

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika sebuah lembaga survei nasional menobatkannya sebagai penyiar dengan jumlah pendengar terbanyak di Kota Bandung. Sebuah cincin emas menjadi penanda masa ketika suaranya hadir di ribuan rumah, setiap hari.

Di tengah derasnya arus digital, keyakinannya pada radio tak pernah bergeser. Baginya, radio tidak pernah usang, ia hanya berubah medium. Dari transistor ke gawai, dari gelombang udara ke streaming. Selama masih ada kepercayaan pendengar, radio akan tetap hidup.

Kini, Bang Son bersiaran di Radio Cakra yang menempati posisi Radio Nomor Satu All Segment di Bandung (AC Nielsen Wave II 2025). Bagi Sonjaya, capaian itu bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa radio masih menjadi ruang kebersamaan.

Bagi Sonjaya Akbar, radio bukan tentang siapa yang berbicara, melainkan siapa yang didengarkan. Selama masih ada suara warga yang membutuhkan ruang, ia akan tetap berada di balik mikrofon menemani, menguatkan, dan membela.

Di sanalah makna radio baginya sebagai ruang berbagi suara, rasa, dan harapan. Sebuah pengabdian yang dijalani dengan kesetiaan dan keyakinan bahwa suara yang jujur akan selalu menemukan pendengarnya.

Oleh: Kin Sanubary