Ragam

Fenomena Mouth Taping di Media Sosial, Antara Tren Viral dan Risiko Kesehatan

×

Fenomena Mouth Taping di Media Sosial, Antara Tren Viral dan Risiko Kesehatan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Belakangan ini, tren mouth taping atau menutup mulut dengan lakban saat tidur tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Praktik ini diyakini mampu mengatasi kebiasaan mendengkur, melatih pernapasan melalui hidung, dan memberikan sejumlah manfaat lainnya seperti mengurangi bau mulut, mulut kering, hingga mencegah gigi berlubang.

Bahkan, ada pula yang mengklaim bahwa mouth taping dapat mengubah struktur rahang dan dagu. Namun, benarkah tren ini aman dilakukan?

Memahami Mendengkur dan Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Mendengkur sendiri terjadi akibat getaran jaringan lunak di saluran napas atas saat tidur. Kondisi ini wajar terjadi sesekali, tetapi bila berlangsung terus-menerus, perlu diwaspadai karena bisa menjadi gejala dari obstructive sleep apnea (OSA). OSA merupakan gangguan tidur serius yang ditandai dengan henti napas atau napas dangkal setidaknya lima kali per jam saat tidur, disertai gejala seperti mengantuk di siang hari, sulit tidur, hingga suara dengkuran keras.

Berbagai faktor dapat memicu OSA, seperti kelainan struktur hidung, mulut, dan rahang; gangguan endokrin atau saraf; serta faktor risiko lain seperti obesitas, usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, dan kebiasaan tidur telentang. Pemeriksaan polisomnografi menjadi standar diagnosis OSA. Jika terdiagnosis, terapi yang umum digunakan meliputi penggunaan alat CPAP, penurunan berat badan, hingga pembedahan, tergantung penyebabnya.

Bukti Ilmiah Manfaat Mouth Taping

Sayangnya, manfaat mouth taping belum didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Hanya ada dua studi skala kecil yang menyebutkan adanya sedikit perbaikan pada pasien OSA ringan, namun hasilnya tidak signifikan. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa mouth taping mampu mengubah struktur rahang atau wajah seperti klaim yang banyak beredar di media sosial.

Meskipun bernapas melalui hidung dianggap lebih menguntungkan karena udara yang masuk lebih hangat dan tersaring, studi terhadap penderita asma juga tidak menunjukkan adanya perbaikan klinis setelah menggunakan mouth taping.

Risiko dan Efek Samping

Lebih jauh, penggunaan mouth taping dapat menimbulkan sejumlah efek samping seperti rasa cemas, ketidaknyamanan bernapas melalui hidung, iritasi kulit, dan sulit tidur. Bahkan, dalam beberapa kasus, tindakan ini dapat membahayakan kesehatan, terutama jika terjadi sumbatan pada hidung yang menyebabkan kekurangan oksigen hingga risiko asfiksia (mati lemas).

Hingga saat ini, belum ada organisasi medis resmi yang merekomendasikan penggunaan mouth taping. Para ahli justru menilai tren ini terlalu menyederhanakan masalah tidur yang kompleks dan dapat menunda diagnosis serta pengobatan yang seharusnya dilakukan.

Bijak Menyikapi Tren

Sebelum memutuskan mengikuti tren mouth taping, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis, khususnya jika Anda memiliki faktor risiko atau gangguan tidur tertentu. Jangan mudah tergoda oleh tren media sosial tanpa mempertimbangkan fakta ilmiah dan risiko yang mungkin ditimbulkan.

Kesehatan adalah hal serius yang tidak bisa dipertaruhkan hanya demi mengikuti tren semata. Pilihlah langkah yang tepat dan terbukti aman demi kualitas tidur dan kesehatan Anda secara menyeluruh.