SUBANG, TINTAHIJAU.com – Masa remaja adalah fase penting dalam pembentukan jati diri, di mana pertemanan memiliki peran besar terhadap perkembangan emosional dan sosial.
Namun, tidak semua hubungan pertemanan membawa dampak positif. Tanpa disadari, banyak remaja terjebak dalam friendship toxic, pertemanan yang justru melelahkan, menyakiti, dan merugikan kesehatan mental.
Karena sering dibungkus dengan alasan candaan, solidaritas, atau takut kehilangan teman, hubungan yang tidak sehat ini kerap dianggap wajar.
Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk mengenali ciri-ciri friendship toxic agar dapat menjaga diri dan membangun pertemanan yang sehat.
Berikut ciri-ciri friendship toxic yang sering tidak disadari remaja, karena kerap dianggap “normal” dalam pertemanan sehari-hari.
- Selalu Merasa Lelah Secara Emosional
Setelah bertemu atau mengobrol dengannya, kamu merasa capek, sedih, atau tidak bersemangat, bukan senang atau lega. - Kamu Selalu yang Mengalah
Pendapatmu jarang didengar. Kamu sering mengalah demi menjaga pertemanan, sementara kebutuhan dan perasaanmu diabaikan. - Sering Diremehkan atau Dijadikan Bahan Bercanda
Candaan yang merendahkan, menyentuh fisik/penampilan, atau mempermalukan di depan orang lain, lalu dibungkus dengan alasan “cuma bercanda”. - Teman yang Terlalu Mengontrol
Mengatur siapa yang boleh kamu temani, cemburu berlebihan, marah kalau kamu dekat dengan orang lain, atau menuntut kamu selalu ada untuknya. - Hanya Datang Saat Butuh
Mereka muncul ketika butuh bantuan, contekan, uang, atau dukungan, lalu menghilang saat kamu yang membutuhkan. - Gaslighting (Membuatmu Meragukan Perasaan Sendiri)
Saat kamu menyampaikan perasaan, mereka bilang kamu “lebay”, “terlalu sensitif”, atau memutarbalikkan fakta seolah-olah kamu yang salah. - Kompetisi Tidak Sehat
Alih-alih mendukung, mereka iri, meremehkan pencapaianmu, atau merasa harus selalu lebih unggul darimu. - Tak Ada Batasan yang Dihormati
Privasimu dilanggar: menyebarkan rahasia, membaca chat tanpa izin, atau memaksamu melakukan hal yang tidak kamu nyaman. - Takut Kehilangan Mereka Meski Kamu Tersakiti
Kamu bertahan bukan karena bahagia, tapi karena takut sendirian, takut dijauhi, atau takut dianggap “tidak setia”. - Kamu Tidak Bisa Menjadi Diri Sendiri
Kamu harus berpura-pura, menyembunyikan pendapat, atau mengubah kepribadian agar diterima.
Menyadari adanya friendship toxic merupakan langkah awal untuk melindungi kesehatan mental dan harga diri remaja.
Dengan mengenali ciri-cirinya, remaja diharapkan mampu memilih pertemanan yang sehat, saling menghargai, dan memberi dampak positif bagi perkembangan diri.





