JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan lonjakan signifikan kasus suspek chikungunya pada 2025 dibandingkan periode yang sama pada 2023 dan 2024. Data terbaru mencatat lima provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, yakni Jawa Barat (6.674 kasus), Jawa Tengah (3.388 kasus), Jawa Timur (2.903 kasus), Sumatera Utara (1.074 kasus), dan Banten (838 kasus).
Chikungunya merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti serta Aedes albopictus. Penyakit ini kerap disebut sebagai “flu tulang” karena gejala khasnya berupa nyeri sendi hebat.
Menurut Kemenkes, peningkatan kasus umumnya terjadi pada awal dan akhir musim hujan. Sebagian besar gejala chikungunya berlangsung 3 hingga 10 hari, namun pada sejumlah penderita, nyeri sendi bisa menetap hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Mengutip Medical News Today dan sejumlah sumber kesehatan internasional, terdapat enam gejala utama chikungunya yang patut diwaspadai:
- Demam tinggi – Suhu tubuh bisa meningkat mendadak hingga 39–40°C, biasanya muncul 4–8 hari setelah gigitan nyamuk.
- Nyeri sendi – Gejala khas yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama di pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, dan jari.
- Sakit kepala – Rasa sakit intens di dahi atau pelipis, sering kali disertai nyeri di belakang mata.
- Nyeri otot – Terasa di punggung, paha, dan bahu, yang memperburuk rasa lelah.
- Ruam kulit – Muncul pada 40–50 persen penderita, berupa bercak merah di batang tubuh, lengan, atau kaki.
- Pembengkakan sendi – Disebabkan peradangan dan penumpukan cairan, dapat memperlambat pemulihan.
Antisipasi dan Pencegahan
Pakar kesehatan menekankan bahwa hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan chikungunya. Perawatan biasanya difokuskan pada pereda gejala, seperti obat penurun panas dan anti-nyeri, serta istirahat yang cukup.
Sementara itu, langkah pencegahan dinilai jauh lebih efektif, yaitu dengan memberantas sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan fogging di daerah rawan.
Dengan tren kenaikan kasus, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi. Upaya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan dinilai krusial untuk menekan laju penularan chikungunya.





