BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengambil langkah proaktif untuk menanggapi potensi munculnya infeksi saluran pernapasan, khususnya virus Influenza A (H3N2) sub-klade K yang dikenal dengan istilah Super Flu. RSHS telah menyiapkan prosedur khusus bagi pasien yang terindikasi terpapar virus tersebut dengan gejala berat.
Kesiapan ini ditegaskan oleh Direktur Medik dan Keperawatan RSHS, Dr. Iwan Abdul Rachman, dalam acara Open Discussion bertema “Kesiapan RSHS Dalam Menghadapi Super Flu” di Ruang Sidang RSHS, Kota Bandung, Kamis (8/1).
Menurut Dr. Iwan, meskipun Super Flu terdengar mengkhawatirkan, virus Influenza A (H3N2) subklade K sebenarnya tidak jauh berbeda dengan influenza biasa (musiman), hanya saja memiliki gejala yang lebih berat.
“Jadi untuk SuperFlu ini gejalanya ya seperti Influenza biasa, tapi mungkin dirasakannya gejalanya lebih berat lebih lama lagi,” ujar Iwan.
Pentingnya Pencegahan Dini
Iwan menekankan pentingnya pencegahan dan penanganan awal penularan. Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi:
- Menjalankan pola hidup sehat dan bersih.
- Menggunakan masker bila sedang sakit.
- Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan setiap saat.
- Menjaga jarak bila berada di kerumunan.
Ia menambahkan bahwa virus (H3N2) subklade K, sama seperti influenza pada umumnya, menular melalui droplet dan membutuhkan ruangan khusus, ruang isolasi, saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Prosedur yang Sudah Berjalan
Kesiapan RSHS dalam melayani pasien Super Flu dipastikan tidak menimbulkan kepanikan karena prosedur penanganan sudah berjalan sejak pandemi COVID-19 lalu. RSHS memastikan tren penularan virus Influenza A (H3N2) subklade K saat ini menurun jika dibandingkan dengan data pada tahun 2025, termasuk di Jawa Barat.
“Ini termasuk dalam droplet ya, jadi kita juga sudah punya kebijakan-kebijakan tata laksana pada pasien dengan droplet yang datang ke rumah sakit maupun yang datang ke instalasi gawat darurat (IGD),” katanya.





