Ragam

Monumen Pancasila Sakti, Jejak Sejarah Tragedi G30S/PKI di Lubang Buaya

×

Monumen Pancasila Sakti, Jejak Sejarah Tragedi G30S/PKI di Lubang Buaya

Sebarkan artikel ini
Monumen Pancasila | ANTARA Foto/Arief Firmansyah

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi salah satu saksi bisu tragedi kelam Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI. Monumen ini didirikan untuk mengenang tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Menurut buku Ensiklopedia Pelajar dan Umum karya Gamal Komandoko, lokasi monumen ini berada tidak jauh dari sumur maut, tempat para jenderal dan perwira militer disiksa dan dibunuh sebelum akhirnya ditemukan. Dalam catatan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan, keberadaan monumen ini memiliki simbolisasi sejarah yang kuat. Letaknya 45 meter dari cungkup sumur maut melambangkan tahun kemerdekaan, sementara dinding monumen setinggi 17 meter dengan hiasan Garuda Pancasila melambangkan tanggal 17, hari proklamasi kemerdekaan.

Di depan dinding monumen berdiri patung tujuh Pahlawan Revolusi, yakni Mayjen TNI Anumerta Soetojo Siswomihardjo, Mayjen TNI Anumerta D.I. Panjaitan, Letjen TNI Anumerta R. Soeprapto, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta M.T. Harjono, Letjen TNI Anumerta S. Parman, serta Kapten Czi Anumerta P.A. Tendean. Persis di bawah monumen, terpampang relief yang menggambarkan kronologi peristiwa G30S/PKI, mulai dari prolog, tragedi pembunuhan, hingga penumpasan oleh ABRI dan rakyat. Tertulis pula pesan peringatan: “Waspada… dan mawas diri agar peristiwa semacam ini tidak terulang lagi.”

Pematung Edhi Sunarso, seniman kelahiran Salatiga tahun 1933, merupakan sosok di balik karya monumental ini. Selain Monumen Pancasila Sakti, ia juga dikenal sebagai pencipta Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara, dan Monumen Pembebasan Irian Barat. Pembangunan monumen dan Museum Pengkhianatan PKI dimulai pada 1967, setelah Presiden Soeharto memberi mandat untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari permukiman penduduk dalam radius 14 hektare. Kawasan tersebut diresmikan sebagai kompleks Monumen Pancasila Sakti pada 1973.

Kompleks bersejarah ini terdiri dari area outdoor dan indoor. Area outdoor meliputi taman pameran dan Monumen Pancasila Sakti, sedangkan area indoor mencakup museum dan paseban. Sejumlah tempat dan benda bersejarah masih terawat di dalam kompleks, antara lain Sumur Tua tempat jenazah pahlawan dibuang, rumah penyiksaan, pos komando, dapur umum, mobil-mobil peninggalan Pahlawan Revolusi, serta Museum Pengkhianatan PKI.

Monumen Pancasila Sakti kini tidak hanya menjadi pengingat tragedi kelam bangsa, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan benteng ideologi bangsa Indonesia.