JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan pemantauan ketat terkait temuan kasus kontak erat Hantavirus di DKI Jakarta. Langkah ini diambil sebagai respons cepat setelah adanya laporan keterlibatan perjalanan internasional pada kasus tersebut.
Identifikasi ini bermula dari peringatan dini yang dikirimkan oleh otoritas kesehatan Inggris kepada Pemerintah Indonesia pada 7 Mei 2026. Laporan tersebut menginformasikan adanya seorang Warga Negara Asing (WNA) di atas kapal luar negeri yang diduga terpapar Hantavirus.
Hanya dalam kurun waktu satu hari, tepatnya pada 8 Mei, pasien tersebut berhasil diidentifikasi dan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta.
“Indonesia sejak pandemi Covid-19 sudah jauh lebih baik dalam hal surveilans dan kerja sama internasionalnya,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya, seperti yang dikutip dari laman KOMPAS, Kamis (14/5/2026).
Kabar baik datang dari hasil pelacakan (tracing) yang dilakukan Kemenkes. Seluruh kontak erat dari pasien tersebut dinyatakan negatif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Kendati demikian, pemerintah memilih untuk tetap berhati-hati.
Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbolehkan karantina mandiri, pemerintah Indonesia memutuskan untuk tetap mengisolasi pasien secara penuh di rumah sakit selama masa inkubasi dua minggu sejak 8 Mei. Hal ini dilakukan guna memastikan kondisi benar-benar aman sebelum pasien kembali ke masyarakat.
Menkes menjelaskan bahwa varian Hantavirus yang terdeteksi ini merupakan kategori varian Asia. Varian ini memiliki tingkat fatalitas kasus (case fatality rate) di kisaran 5 hingga 15 persen. Angka ini relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan varian Andes di Amerika Selatan yang menyerang paru-paru dengan risiko kematian mencapai 60 persen.
Budi Gunadi juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Berbeda dengan Covid-19 yang menular antarmanusia melalui udara, Hantavirus memiliki pola penularan yang sangat spesifik.
“99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antar-manusia,” tutur Menkes.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, Andi Saguni, menyebutkan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin atau obat spesifik untuk virus ini. Penanganan di RSPI Sulianti Saroso difokuskan pada terapi simtomatis atau meredakan gejala serta terapi suportif.
“Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk Hantavirus, sehingga penanganan dilakukan secara simtomatis dan suportif berdasarkan gejala yang muncul,” jelas Andi.
Pemerintah menekankan bahwa kunci utama pencegahan adalah menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat diminta waspada terhadap keberadaan hewan pengerat dan memastikan area tempat tinggal, perkantoran, hingga tempat makan bersih dari cairan tubuh tikus yang menjadi media utama penyebaran virus.





