Ragam

Ringkasan Khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid Al-Rizal Perumahan STIESA Regency Jabong Subang

×

Ringkasan Khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid Al-Rizal Perumahan STIESA Regency Jabong Subang

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Suasana haru dan khidmat menyelimuti pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 H di Masjid Al-Rizal, Perumahan STIESA Regency Jabong Subang. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Aep Seupudin SE bertindak sebagai khatib, membawakan khutbah yang mengajak para jemaah untuk merenungkan kembali hakikat kefanaan waktu, tanggung jawab dalam keluarga, serta pentingnya saling memaafkan. Berikut adalah sari pati dari pesan mendalam yang beliau sampaikan.

Rasa Syukur dan Pengingat Akan Kefanaan Waktu

Khutbah diawali dengan gema takbir dan puji-pujian yang agung kepada Allah SWT serta sholawat. Khatib mengajak seluruh jemaah untuk terus berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan, yakni dengan patuh pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di hari kemenangan ini, sudah sepatutnya kita bersyukur atas karunia iman dan Islam yang menguatkan hati kita untuk senantiasa menyembah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah. Kita juga patut bersyukur atas nikmat kesehatan dan waktu yang memungkinkan kita berkumpul untuk menunaikan salat Idul Fitri pada hari ini. Hal ini selaras dengan firman Allah:

“Allah mengendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu meng Agungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah 185).

Seiring tenggelamnya matahari kemarin sore, bulan suci Ramadan yang sarat akan ampunan dan keberkahan telah resmi meninggalkan kita. Khatib memberikan renungan yang menggugah: adakah jaminan kita akan kembali bersua dengan Ramadan tahun depan? Tidak ada yang tahu pasti apakah jantung ini masih akan berdetak, apakah kita masih sanggup berpuasa, berkumpul bersama keluarga, berada di saf-saf salat, atau sekadar membuka mushaf Al-Quran di tahun yang akan datang.

Manusia sering kali terlena, menganggap bahwa waktu akan terus berputar seperti biasa. Padahal, jatah usia bisa terhenti kapan saja tanpa memandang kemudaan atau kebugaran fisik kita. Suatu saat, tubuh yang kita banggakan ini tidak akan lagi mampu bergerak.

Setiap Umat mempunyai ajal, jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun, dan tidak dapat pula meminta percepatan (QS. Al-A’raf ayat 34).

Gema takbir sering kali mengundang air mata kerinduan akan sosok-sosok tersayang yang tahun lalu masih tertawa dan berfoto bersama kita, namun kini wujudnya telah tiada dan hanya menyisakan kenangan. Oleh sebab itu, manfaatkanlah sisa umur dan waktu yang ada untuk terus beribadah serta merawat kebiasaan-kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadan.

Tanggung Jawab Orang Tua dan Bakti Anak

Khatib juga mengingatkan bahwa seorang kepala keluarga memikul tugas mulia sekaligus berat untuk mencari nafkah yang halal dan menjadi sosok teladan. Peringatan ini tertuang jelas dalam firman Allah:

Yang artinya : Hai orang-orang yg beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya malaikat-malaikat yg kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan (QS. At-Tahrim ayat 6).

Sebagai orang tua di era yang penuh godaan, kita tidak boleh hanya terobsesi pada kesuksesan duniawi maupun karier sang anak. Orang tua berkewajiban untuk mengawasi ketaatan agama anak-anaknya, seperti menutup aurat, menjaga ibadah salat, dan membaca Al-Quran.

Di sisi lain, momen Idul Fitri adalah kesempatan emas bagi anak-anak untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang tua. Seorang ayah rela memeras keringat, mengabaikan kondisi fisiknya, dan memendam beban pikirannya sendiri semata-mata demi kebahagiaan keluarga. Sementara itu, seorang ibu telah berkorban nyawa saat melahirkan dan sering melupakan kesehatannya sendiri demi merawat serta membesarkan kita.

Jangan ragu untuk menunduk di hadapan mereka, menggenggam erat tangannya, dan memohon maaf atas lisan atau sikap kita yang mungkin pernah menggores luka di hati mereka. Selagi mereka masih bernapas, bahagiakanlah dan sayangi mereka. Jangan sampai kesibukan duniawi membuat kita menelantarkan mereka di usia senjanya. Jika mereka telah mendahului kita, jangan pernah putus mengirimkan doa untuk mereka. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

Idaa maatabnu aadam, inqoto’a, a’maluhu illaa min tsalasi : Sodaqotin jaariyah, au’ilmiin yuntafa’ubih, au’ waladin soolihin yadu’lah. Yang artinya : “ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya keculai 3 perkara, yakni sedkah jariah, ilmu yg bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya”.

Kesalahan Manusia dan Saling Memaafkan

Sebagai manusia biasa, kita tidak akan pernah luput dari khilaf. Khatib mengutip sebuah pepatah Arab:

Liqullin sorimin nabwah, Walikulli jawadin kab’wah, waliquli aalimin haf’wah. “tiap pedang yang tajam bisa meleset, tiap kuda yang gesit bisa tergelincir, dan tiap yg berilmu bisa salah”.

Terkadang, berbagai nikmat yang Allah berikan justru membuat kita abai, menggunakan mata untuk melihat yang terlarang, dan telinga untuk menyimak apa yang tak pantas didengar. Dalam bersosialisasi dengan kerabat dan tetangga pun, tutur kata kita mungkin pernah menyakiti mereka. Karenanya, jadikan Idul Fitri ini sebagai wadah untuk saling bermaaf-maafan dan mengeratkan kembali tali persaudaraan yang sempat renggang.

Khutbah ditutup dengan serangkaian doa yang syahdu; memohon agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan , memohon ampun atas kelalaian diri dalam beribadah , meminta maaf atas kegagalan membahagiakan orang tua maupun kelalaian dalam mendidik anak , serta mendoakan kerabat yang telah berpulang ke rahmatullah.

Demikian ringkasan dari khtubah Idul Fitri 1447 H yang pada akhirnya, gema takbir yang berkumandang di hari nan fitri ini bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan pengingat lembut betapa fana usia kita. Selagi napas masih berembus dan raga masih mampu memeluk, mari rengkuh erat kedua orang tua dan keluarga kita. Luruhkan segala keangkuhan untuk saling memaafkan, agar kita benar-benar melangkah sebagai insan yang kembali suci—sebelum waktu meniadakan kesempatan, dan semuanya hanya tersisa menjadi kenangan.