SUBANG, TINTAHIJAU.com – Admin Media Sosial SPPG 03 Pasirkareumbi, Niko Rinaldo, menyampaikan belasungkawa atas musibah yang terjadi di sejumlah wilayah, di mana beberapa siswa mengalami keracunan usai diduga mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Atas nama pribadi dan keluarga besar SPPG Pasirkareumbi 03, kami turut berbelasungkawa dan mendoakan agar para korban segera pulih dan sehat kembali seperti sedia kala,” ungkap Niko.
Ia menegaskan, peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bagi seluruh penyelenggara Mitra BGN-SPPG di manapun berada agar lebih disiplin mematuhi ketentuan dan arahan pemerintah. Hal ini mencakup kepatuhan terhadap petunjuk teknis, kelengkapan berkas, serta sertifikasi yang dipersyaratkan.
Menurut Niko, BGN bersama Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus memperkuat kualitas program MBG sebagai wujud respons terhadap aspirasi masyarakat. Kritik maupun perbedaan pendapat dipandang sebagai bagian dari upaya penyempurnaan, agar program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini semakin baik dan berkelanjutan.
“Dampaknya sudah terasa, salah satunya serapan tenaga kerja lokal. Satu dapur saja bisa menyerap 47 orang di tiap wilayah. Jangka panjangnya, program ini diharapkan mampu mendukung pemenuhan gizi anak-anak, sehingga visi pembangunan Indonesia Emas pemerintah hingga 2034 bisa terwujud,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan praktik baik di Jepang yang sejak 1954, China, memasukkan program makan gratis ke dalam kurikulum sekolah. “Kualitas pertumbuhan anak-anak di sana menjadi lebih baik dan kompetitif secara global, termasuk ukuran fisik yang sejajar dengan anak-anak Eropa,” katanya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan salah satu program prioritas nasional yang digulirkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Sasaran program ini meliputi siswa dari tingkat TK hingga SMA/SMK, santri pesantren, ibu menyusui, ibu hamil serta balita melalui layanan posyandu.
Selain bertujuan memperbaiki asupan gizi dan menekan angka stunting, MBG juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Setiap dapur penyelenggara mampu menyerap rata-rata 47–50 tenaga kerja lokal dan memberikan efek berganda bagi UMKM penyedia bahan pangan.
Sebagai langkah konkret, SPPG Pasirkareumbi 03 memastikan akan terus melakukan pengawasan langsung ke sekolah-sekolah yang menjadi titik layanan mereka.
“Kami melayani 17 sekolah yang terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, dan 1 Posyandu. Sepanjang program berjalan, pengawasan ini menjadi bagian dari tanggung jawab moral kami. Karena selain sebagai mitra, kami juga orang tua yang punya anak sekolah. Kekhawatiran itu sama, sebab anak-anak kami juga menerima manfaat layanan dari dapur lain,” ungkap Niko.
Ia pun mengajak seluruh dapur penyelenggara MBG di Kabupaten Subang untuk disiplin menjalankan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pemerintah Daerah.




