SUBANG, TINTAHIJAU.COM- Menjelang akhir Januari, Kecamatan Dangdeur, Kabupaten Subang, bersiap menyambut beroperasinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dangdeur 08.
Unit layanan ini diproyeksikan menjadi simpul penting dalam pemenuhan gizi masyarakat, sekaligus penggerak baru ekonomi lokal berbasis pertanian dan usaha kecil.
Secara operasional, dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini akan melayani 1.542 penerima manfaat dari delapan sekolah di wilayah Kecamatan Subang. Sekolah tersebut meliputi SDN Panji, SDN Sukahayu, SDN Padasuka, SDN Dewi Sartika, SDN Djuanda, SDN Salep, SMK Bhakti Kencana, dan SMK Bina Teknologi.
Dapur MBG berlokasi di Jalan Brigjen Katamso RT 057 RW 006, Kelurahan Dangdeur, Kecamatan Subang. Fasilitas ini mengusung konsep dapur industrial modern dengan standar operasional yang mengacu pada arahan Badan Gizi Nasional (BGN).
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dirancang dapat dikontrol secara optimal. Fasilitas ini disiapkan untuk meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas produksi makanan dalam skala besar.
SPPG Dangdeur 08 dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari ruang loker karyawan, loading room, gudang basah dan gudang kering, ruang pencucian ompreng, ruang persiapan bahan baku, ruang pengolahan makanan, ruang pemorsian yang melibatkan tenaga ahli gizi, hingga dapur utama berstandar operasional. Seluruh alur produksi dirancang satu arah untuk menjaga higienitas dan keamanan pangan.
Dari sisi pengelolaan, SPPG Dangdeur dirancang sebagai dapur gizi terintegrasi dengan standar keamanan pangan yang ketat. Sebanyak 50 personel telah disiapkan untuk mengikuti pelatihan keamanan pangan, mulai dari penanganan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian makanan.
Untuk menjamin mutu dan keamanan konsumsi, pengelola juga menerapkan sistem pengambilan sampel makanan secara berkala, standar SLHE, serta penggunaan bahan baku bersertifikat halal sebagai bagian dari prosedur operasional sebelum layanan dimulai.
Untuk menjaga kualitas makanan hingga sampai ke tangan penerima manfaat, pengelola menerapkan sistem kerja dua shift. Shift pertama dimulai pukul 02.00 WIB untuk persiapan dan pengolahan awal, sedangkan shift kedua dimulai pukul 09.00 WIB untuk proses lanjutan, pemorsian, serta persiapan distribusi. Pola ini diterapkan agar makanan tetap segar, aman dikonsumsi, dan tidak terlalu lama tersimpan.
PIC SPPG Dangdeur, Efik Hadiat, mengatakan unit layanan ini disiapkan sebagai sistem jangka panjang, bukan sekadar proyek sementara.
“SPPG Dangdeur kami bangun sebagai pusat layanan gizi yang profesional. Standarnya kami siapkan sejak awal, mulai dari SDM, alur dapur, hingga keamanan pangan, supaya kualitas pelayanan bisa konsisten,” ujarnya.
Dengan sistem pelayanan yang terstandar, fasilitas yang memadai, serta rantai pasok yang melibatkan masyarakat sekitar, SPPG Dangdeur diproyeksikan menjadi model layanan pemenuhan gizi berbasis komunitas di Kabupaten Subang.
Jika sesuai rencana, operasional perdana akan dimulai pada akhir Januari. Momentum ini menandai dimulainya peran baru SPPG Dangdeur sebagai penjaga kualitas gizi masyarakat sekaligus motor penggerak ekonomi lokal.





