Ragam

Terjadi Lonjakan Kasus DBD di Indonesia: Perlu Kewaspadaan dan Penanganan Cepat

×

Terjadi Lonjakan Kasus DBD di Indonesia: Perlu Kewaspadaan dan Penanganan Cepat

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia tengah mencatat lonjakan yang mengkhawatirkan. Data hingga bulan Maret 2024 menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus DBD, mencapai 35.556 kasus dengan 290 kematian. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua spesies nyamuk ini berperan sebagai vektor yang menyebarkan virus dengue kepada manusia. Faktor-faktor seperti kepadatan populasi nyamuk vektor, kebersihan lingkungan, dan faktor iklim memengaruhi penyebaran DBD.

Menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, DBD memiliki perbedaan penting dengan penyakit demam lainnya. Demam pada DBD, meskipun tinggi seperti pada penyakit lain seperti covid-19 atau flu, memiliki karakteristik yang unik. Penurunan demam pada DBD bukanlah tanda perbaikan kondisi, melainkan menjadi indikator awal masuknya penyakit ke dalam fase kritis.

Ketika demam pada DBD mulai turun, terjadi kebocoran pada pembuluh darah. Gejala demam tinggi umumnya berlangsung selama 3-7 hari sebelum memasuki fase kritis yang berlangsung 1-2 hari. Salah kaprah yang sering terjadi di masyarakat adalah menganggap penurunan demam sebagai tanda kesembuhan, padahal sebaliknya, itu bisa menjadi tahap yang lebih berbahaya.

Gejala pada fase kritis DBD mencakup penurunan jumlah trombosit dalam darah, yang dapat menyebabkan perdarahan serius. Penderita dapat mengalami perdarahan pada gusi, hidung, atau kulit. Fase ini juga bisa berkembang menjadi komplikasi lebih serius seperti syok dengue atau gagal organ.

Penting untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat saat memasuki fase kritis. Tes Torniquet atau Rumple-Leede dapat dilakukan untuk mengidentifikasi apakah demam yang dialami merupakan gejala DBD.

Selama fase kritis, penderita mungkin mengalami hilangnya nafsu makan dan minum, mual, dan muntah. Kecukupan cairan dalam tubuh harus dipastikan untuk mencegah dehidrasi dan risiko kematian. Cairan dapat diberikan melalui minum air putih, minuman sehat, dan infus.

Setelah melewati fase kritis, penderita DBD akan memasuki fase pemulihan, ditandai dengan peningkatan denyut nadi, peningkatan kadar trombosit dalam darah, dan pemulihan nafsu makan.

Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat terhadap DBD. Langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi habitat nyamuk, dan menggunakan kelambu saat tidur menjadi kunci dalam mengendalikan penyebaran penyakit ini.

Kehati-hatian dan kerjasama semua pihak dibutuhkan untuk menangani masalah ini dengan efektif demi kesehatan masyarakat yang lebih baik.