JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memutuskan untuk memblokir sementara akses ke aplikasi kecerdasan buatan Grok AI. Langkah ini diambil menyusul maraknya penyalahgunaan Grok untuk membuat konten asusila, termasuk merekayasa foto orang lain tanpa izin menjadi gambar tak senonoh.
Pemblokiran tersebut membuat halaman resmi Grok, situs X AI, serta aplikasi mandiri Grok AI tidak dapat diakses oleh pengguna di Indonesia. Saat mencoba membuka layanan itu, pengguna akan dialihkan ke laman Trustpositif atau menerima pemberitahuan error. Kendati demikian, akses Grok AI melalui platform X (dulu Twitter) masih dapat dilakukan lewat tab khusus Grok. Sementara itu, pembuatan gambar melalui mention atau penandaan akun @Grok hanya tersedia bagi pelanggan X Premium.
Keputusan Komdigi memutus akses Grok AI didasarkan pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Lingkup Privat, khususnya Pasal 9. Dalam aturan tersebut, setiap PSE diwajibkan memastikan sistem elektronik yang dikelolanya tidak memuat, memfasilitasi, maupun menyebarluaskan informasi atau dokumen elektronik yang dilarang.
Pemblokiran ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan di berbagai platform digital, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam menekan penyebaran konten melanggar norma dan hukum di ruang siber.
Mengenal Grok AI
Grok AI merupakan chatbot berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh xAI, perusahaan rintisan milik Elon Musk. Berdasarkan keterangan di akun resminya di platform X, Grok dirancang berbeda dari chatbot AI pada umumnya. Selain mampu terlibat dalam diskusi serius, Grok juga memiliki gaya komunikasi yang santai, jenaka, bahkan cenderung kasar, dengan tujuan menciptakan interaksi yang lebih natural dan menghibur.
Keunggulan lain Grok AI adalah integrasinya secara langsung dengan platform media sosial X. Dengan integrasi tersebut, Grok dapat menarik data secara real-time, sehingga mampu memberikan jawaban yang terkini dan relevan, terutama terkait tren, berita, dan topik viral yang sedang ramai dibicarakan.
Mengacu pada informasi di laman Play Store Google, xAI telah merilis tiga versi Grok hingga 2024. Versi pertama, Grok-1, diluncurkan pada 17 Maret 2024 sebagai fondasi awal model bahasa besar untuk memahami dan merespons percakapan berbasis teks. Selanjutnya, Grok-1.5 dirilis pada 28 Maret 2024 dengan peningkatan signifikan dalam kemampuan penalaran dan pemrosesan informasi.
Puncak pengembangan tersebut ditandai dengan kehadiran Grok-1.5 Vision pada 12 April 2024. Versi ini menjadi model multimodal pertama dari xAI, yang tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu memproses informasi visual seperti dokumen, diagram, dan foto. Bahkan, Grok dapat mengubah gambar atau skema visual menjadi kode pemrograman yang fungsional, sehingga dinilai bermanfaat bagi pengembang, desainer, maupun pekerja di bidang visual teknis.
Pemblokiran sementara Grok AI oleh Komdigi pun menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan perlu diimbangi dengan pengawasan dan kepatuhan terhadap regulasi, agar tidak disalahgunakan dan merugikan masyarakat.





