Teknologi

Komponen RAM Terancam Langka karena AI, Ponsel Bisa Kembali ke 4GB

×

Komponen RAM Terancam Langka karena AI, Ponsel Bisa Kembali ke 4GB

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Harga berbagai perangkat elektronik seperti laptop, ponsel, tablet, hingga konsol game diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun depan. Lonjakan tersebut dipicu oleh ledakan kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menyedot pasokan komponen penting, terutama memori RAM.

Sejumlah laporan menyebutkan, krisis ini berawal dari keterbatasan produksi DRAM, jenis memori utama yang digunakan pada hampir seluruh perangkat elektronik modern. Saat ini, pasar DRAM global dikuasai oleh tiga raksasa industri, yakni Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, yang bersama-sama mengendalikan sekitar 95 persen pasokan dunia.

Dalam kondisi normal, produksi dan permintaan DRAM berjalan seimbang sehingga harga relatif stabil. Namun, situasi berubah drastis seiring masifnya pembangunan pusat data AI. Perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan Amazon Web Services (AWS) disebut menjadi penyerap utama DRAM dan SSD berkecepatan tinggi untuk menjalankan model AI generatif mutakhir.

Lonjakan permintaan dari sektor data center membuat produsen chip kewalahan memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya, pasokan DRAM untuk perangkat elektronik konsumen semakin terbatas. Kondisi ini memberi ruang bagi produsen chip untuk menaikkan harga di tengah kelangkaan, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Bahkan, sejumlah produsen disebut mulai mempertimbangkan ulang kelayakan pasar konsumen. Salah satu dampaknya terlihat dari langkah Micron Technology yang mengalihkan fokus bisnisnya ke sektor AI. Anak usahanya yang dikenal di pasar RAM konsumen, Crucial, disebut menjadi korban awal dari pergeseran strategi tersebut.

Tak hanya memicu kenaikan harga, krisis RAM juga berpotensi menurunkan spesifikasi perangkat, khususnya ponsel pintar. Laporan TrendForce memprediksi ponsel kelas atas akan menunda transisi ke RAM 16GB. Model-model flagship yang saat ini menggunakan RAM 12GB diperkirakan tetap bertahan pada kapasitas tersebut tanpa peningkatan.

Sementara itu, segmen menengah dan bawah justru berisiko mengalami penurunan kapasitas RAM. Ponsel kelas menengah diprediksi hanya mentok di RAM 8GB, sedangkan model entry-level berpotensi kembali menggunakan RAM 4GB, meski saat ini sebagian sudah menawarkan RAM 6GB atau 8GB.

Pembocor teknologi bernama Lanzuk bahkan menyebut situasi bisa lebih buruk. Ia mengklaim beberapa ponsel flagship yang kini mengusung RAM 16GB kemungkinan akan turun kembali ke 12GB pada generasi penerusnya. Perangkat seperti OnePlus dan Google Pixel seri terbaru disebut berpotensi terdampak.

Ironisnya, kondisi ini dapat menghambat pengembangan fitur AI di ponsel. Pasalnya, pemrosesan AI pada perangkat pintar sangat bergantung pada kapasitas RAM yang besar agar dapat berjalan optimal.

Meski demikian, seluruh proyeksi tersebut masih bersifat prediksi. Industri teknologi global kini menunggu bagaimana produsen chip dan perangkat akan merespons tekanan permintaan AI yang terus meningkat, serta dampaknya terhadap konsumen di masa mendatang.