Mengungkap “Cybervetting”, Mendalami Jejak Digital Seseorang

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Di era digital yang semakin maju, praktik perekrutan sumber daya manusia telah mengalami perubahan signifikan. Salah satu aspek yang semakin mendapatkan perhatian adalah “cybervetting” atau pemeriksaan jejak digital calon karyawan melalui internet. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan apa itu cybervetting, serta mengungkap kelebihan dan kekurangannya dalam dunia rekrutmen.

Definisi Cybervetting

Cybervetting adalah proses penyelidikan online yang dilakukan oleh perusahaan atau pihak yang melakukan perekrutan terhadap calon karyawan. Tujuan utamanya adalah untuk memeriksa dan menilai informasi yang dapat ditemukan secara daring mengenai seorang pelamar. Informasi tersebut meliputi aktivitas di media sosial, komentar di forum online, blog pribadi, atau jejak digital lainnya. Dalam beberapa kasus, cybervetting juga dapat mencakup pemeriksaan riwayat kredit dan rekam jejak online pelamar.

Kelebihan Cybervetting

1. Mengungkap Informasi Tambahan: Cybervetting memberikan informasi tambahan yang mungkin tidak terungkap dalam CV atau wawancara tradisional. Hal ini dapat membantu perekrut dalam membuat keputusan yang lebih baik tentang kualifikasi dan kepribadian calon karyawan.

2. Penilaian Kepribadian: Dengan mengamati aktivitas online seseorang, perekrut dapat membentuk gambaran tentang kepribadian calon karyawan. Misalnya, apakah mereka memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan budaya perusahaan atau apakah mereka menunjukkan perilaku yang tidak etis di media sosial.

3. Identifikasi Potensi Masalah: Cybervetting dapat membantu mengidentifikasi potensi masalah atau peringatan dini terkait calon karyawan. Ini termasuk pengecekan apakah calon tersebut terlibat dalam aktivitas ilegal atau memiliki masalah etika yang dapat memengaruhi produktivitas mereka di tempat kerja.

Kekurangan Cybervetting

1. Ketidaksetaraan Informasi: Cybervetting dapat menyebabkan ketidaksetaraan informasi, di mana calon karyawan dengan kehadiran online yang minim atau yang lebih berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi mereka mungkin terdiskriminasi dalam proses seleksi.

2. Pelanggaran Privasi: Praktik cybervetting yang tidak hati-hati dapat melanggar privasi calon karyawan. Penggunaan informasi yang ditemukan secara online untuk tujuan diskriminatif atau merugikan dapat menghadirkan risiko hukum bagi perusahaan.

3. Ketidakakuratan Data: Informasi yang ditemukan secara online tidak selalu akurat atau relevan dengan pekerjaan yang dilamar. Kesalahan penafsiran atau asumsi yang salah dapat mengarah pada penilaian yang tidak adil terhadap pelamar.

4. Sumber Potensial Bias: Data yang ditemukan secara daring dapat menciptakan bias dalam proses rekrutmen. Misalnya, penilaian berdasarkan aktivitas politik atau agama seseorang dapat menghasilkan bias yang tidak diinginkan.

Cybervetting adalah alat yang kuat dalam proses perekrutan, yang dapat memberikan wawasan tambahan tentang calon karyawan. Namun, perlu digunakan dengan hati-hati dan mematuhi aturan privasi yang berlaku.

Untuk mencapai keseimbangan yang baik antara mendapatkan informasi berharga dan menjaga privasi, perusahaan perlu memiliki kebijakan yang jelas dan mengikuti praktik-praktik terbaik dalam penggunaan cybervetting. Dengan pendekatan yang bijak, cybervetting dapat menjadi alat yang berharga dalam membangun tim yang sukses.