Tantangan dan Dampak Teknologi AI dalam Dunia Keamanan Siber

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengalami perkembangan pesat dan menjadi pusat perhatian dalam dunia digital. Sementara banyak yang melihat AI sebagai era baru yang penuh potensi, ada juga prediksi yang mengkhawatirkan, terutama terkait dengan tindakan kejahatan siber yang lebih canggih. Penjahat siber kini dengan mudah memanfaatkan AI untuk menciptakan malware dan metode phishing baru.

Namun, seiring dengan perkembangan ini, terdapat fakta menarik yang berkaitan dengan tindakan penjahat siber yang memanfaatkan AI. Beberapa pakar bahkan memprediksi bahwa AI bisa menjadi penyebab apokalips yang mengancam peradaban manusia, sehingga ada seruan untuk memperlambat pengembangan AI demi mencegah bencana tersebut.

Baca Juga:  Tips Memilih Ubin atau Keramik Berkualitas untuk Rumah Anda

Vitaly Kamluk, Kepala Pusat Tim Penelitian dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky Asia Pasifik, menjelaskan bahwa saat ini penjahat siber seringkali “mengkambing hitamkan” AI ketika mereka menggunakan teknologi ini untuk melancarkan tindakan kriminal mereka. Mereka cenderung menyalahkan AI sebagai entitas yang membuat mereka tidak bertanggung jawab atas dampak kejahatan siber yang mereka hasilkan. Fenomena ini terkait dengan faktor psikologis yang disebut “Suffering Distancing Syndrome” atau sindrom jarak yang menderita.

Sindrom ini membuat para penjahat siber merasa jauh lebih minim tekanan dan rasa bersalah, terutama karena tindakan kriminal mereka tidak terkait langsung dengan penderitaan fisik yang mereka sebabkan pada korban. Selain itu, AI yang menciptakan uang atau keuntungan ilegal juga dapat menjadi “kambing hitam” yang mengaburkan tindakan kriminal para penjahat siber, sehingga mereka merasa tidak sepenuhnya bersalah.

Baca Juga:  Awas! Trojan GoldPickaxe Ancam Pengguna iPhone, Bisa Curi FaceID dan Kuras Rekening Bank

Dampak lain dari perkembangan AI dalam dunia keamanan siber adalah potensi pengaruhnya terhadap tim keamanan. Semakin banyak proses dan alat siber yang diotomatisasi dengan AI, semakin sedikit tanggung jawab yang bisa diberikan kepada manusia ketika serangan siber terjadi.

Selain itu, AI juga mampu menciptakan konten-konten baru yang sangat mirip dengan buatan manusia, termasuk gambar, suara, video deepfake, dan percakapan berbasis teks yang hampir tidak bisa dibedakan dari percakapan manusia.

Oleh karena itu, penting untuk memiliki pedoman yang ketat saat memanfaatkan AI secara aman. Hal ini termasuk membatasi akses anonim ke sistem cerdas yang memproses data besar, serta kebijakan penandaan konten yang dihasilkan oleh AI untuk membedakan antara konten buatan manusia dan AI.

Baca Juga:  Bisa Dicoba Pengantin Baru, Posisi Bercinta Bagi Pemula

Edukasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesadaran untuk membedakan antara konten yang dibuat oleh AI dan manusia. Teknologi AI adalah pedang bermata dua, dan pemahaman yang baik tentang cara mengarahkannya dengan aman akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan dan dampaknya di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: red.tintahijau@gmail.com