BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Nama Curug Tilu Rancabali tidak lahir begitu saja. Sebutan tersebut berasal dari bahasa Sunda yang berarti “tiga air terjun”, merujuk pada tiga aliran air yang mengalir dari tebing di kawasan kebun teh Rancabali, Kabupaten Bandung. Tiga aliran inilah yang kemudian menjadi identitas utama sekaligus daya tarik kawasan wisata tersebut.
Pada awalnya, lokasi Curug Tilu dikenal dengan nama Situ Lembang dan merupakan bagian dari lahan perkebunan teh milik PTPN VIII. Kawasan ini belum difungsikan sebagai destinasi wisata, melainkan menjadi area pendukung aktivitas perkebunan. Namun, seiring berjalannya waktu, potensi alam di kawasan tersebut mulai dilirik.
Pada 2009, dilakukan pengembangan dengan memanfaatkan aliran air alami yang ada. Aliran tersebut kemudian ditata menjadi tiga air terjun buatan tanpa menghilangkan karakter alam di sekitarnya. Sejak saat itu, nama Curug Tilu mulai digunakan dan dikenal luas oleh masyarakat.
Revitalisasi kawasan terus dilakukan dengan mengusung konsep ekopark yang ramah lingkungan. Penataan lanskap dilakukan agar selaras dengan alam kebun teh, sekaligus menghadirkan area rekreasi yang nyaman bagi keluarga.
Secara administratif, Curug Tilu berada di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali. Lokasinya berada di pinggir Jalan Nasional Ciwidey–Rancabali dan dapat diakses dengan mudah, berdekatan dengan sejumlah destinasi unggulan seperti Kawah Putih.
Keunikan tiga curug yang menjadi asal-usul namanya hingga kini tetap dipertahankan sebagai ikon utama. Hal tersebut sekaligus menjadi simbol transformasi kawasan perkebunan menjadi destinasi wisata alam berkelanjutan di wilayah Bandung Selatan.





