Wisata

Membawa Kearifan Lokal Subang ke Panggung Dunia, Lembur Cigarukgak Jadi Sorotan di Forum Internasional SEME 2026 Bali

×

Membawa Kearifan Lokal Subang ke Panggung Dunia, Lembur Cigarukgak Jadi Sorotan di Forum Internasional SEME 2026 Bali

Sebarkan artikel ini

NUSA DUA, TINTAHIJAU.com – Potensi besar pariwisata berbasis masyarakat dari pelosok Kabupaten Subang, Jawa Barat, berhasil menarik perhatian para pakar dan praktisi dalam perhelatan internasional Post Graduate Course on the Social and Ecological Market Economy (SEME) 2026. Forum strategis yang berlangsung pada 18–21 Mei 2026 di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort ini menjadi panggung pengenalan bagi Lembur Cigarukgak sebagai model masa depan pembangunan desa wisata yang inklusif dan berkelanjutan.

Forum bergengsi yang diselenggarakan oleh Konrad Adenauer Stiftung (KAS) bekerja sama dengan Universitas Paramadina ini mengusung tema besar “The Global Economic Landscape & Indonesia’s Prospect”. Di tengah perdebatan hangat mengenai tantangan ekonomi global dan transisi menuju ekonomi hijau, gagasan untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal Lembur Cigarukgak ke dalam pendekatan SEME dinilai sebagai langkah konkret yang sangat relevan bagi Indonesia.

Sinergi Ekonomi Gotong Royong dan Prinsip SEME

Adalah Asep Kurniawan, delegasi dari STIE Sutaatmadja Subang, yang menggaungkan nama Lembur Cigarukgak di hadapan sekitar 20 peserta terpilih dari berbagai sektor strategis nasional—mulai dari akademisi, pejabat pemerintah daerah, jurnalis, organisasi non-pemerintah (NGO), praktisi bisnis, hingga tim ahli DPR dan DPD RI.

Dalam sesi presentasi kelompok dan diskusi intensif, Asep memaparkan studi kasus Lembur Cigarukgak sebagai sebuah manifestasi desa wisata yang tidak sekadar mengandalkan keelokan lanskap alam semata. Kekuatan utama dari kampung Sunda autentik ini terletak pada kokohnya kebudayaan lokal, tingginya partisipasi aktif masyarakat, serta luhurnya semangat ekonomi gotong royong yang masih terjaga.

“Desa wisata seperti Lembur Cigarukgak memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat. Jika dikelola secara tepat dengan pendekatan berkelanjutan, desa ini dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal menjadi pelaku pembangunan ekonomi sekaligus penjaga lingkungan dan budaya.” — Asep Kurniawan, Delegasi STIE Sutaatmadja Subang

Konsep Social and Ecological Market Economy (SEME) dinilai sangat harmonis jika diimplementasikan pada ekosistem pedesaan seperti Cigarukgak. Pendekatan ini mampu menjembatani pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan sosial, sekaligus memberikan garansi terhadap kelestarian lingkungan hidup dan identitas budaya setempat.

Autentisitas Sunda di Tengah Tren Wisata Global

Lembur Cigarukgak dinilai memiliki seluruh instrumen yang dibutuhkan dalam lanskap pariwisata modern yang kini kian bergeser ke arah wisata berbasis pengalaman (experiential tourism) dan keberlanjutan. Karakteristik pedesaan Sunda yang asli, ritme kehidupan masyarakat yang memegang teguh tradisi, serta peluang pengembangan wisata edukasi, budaya, dan ekonomi kreatif menjadi keunggulan komparatif desa ini.

Gagasan berskala lokal ini mendapatkan konteks yang kuat melalui pemaparan pembicara utama workshop, Prof. Marcus Marktanner dari Kennesaw State University. Ia menggarisbawahi dinamika perubahan ekonomi global serta peluang emas yang dimiliki negara-negara berkembang dalam meniti era transformasi ekonomi hijau. Pandangan strategis ini diperkaya oleh masukan dari institusi nasional terkemuka seperti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), The Habibie Center, Universitas Paramadina, serta Pemerintah Provinsi Bali.

Refleksi dari Bali untuk Masa Depan Pariwisata

Pemilihan Bali sebagai episentrum kegiatan ini secara tidak langsung memberikan refleksi mendalam mengenai realitas industri pariwisata modern. Di balik gemerlap dan pesatnya industrialisasi wisata, tantangan mengenai pemerataan ekonomi bagi masyarakat lokal, tekanan terhadap lingkungan, dan degradasi budaya menjadi alarm penting bagi para peserta forum.

Dalam bingkai tersebut, akselerasi desa wisata berbasis komunitas seperti Lembur Cigarukgak dipandang sebagai jalan keluar dan alternatif konkret. Model ini menawarkan format pariwisata masa depan Indonesia yang lebih humanis, di mana kue ekonomi terdistribusi secara merata ke kantong-kantong masyarakat lokal tanpa mencabut mereka dari akar tradisinya.

Kehadiran perwakilan Subang dalam forum internasional SEME 2026 menegaskan bahwa gagasan pembangunan berkelanjutan dari tingkat tapak memiliki kapasitas untuk mewarnai arah kebijakan global. Dari sebuah lembur di Subang menuju forum dunia di Bali, Lembur Cigarukgak membawa pesan kuat: kemakmuran ekonomi sejati tidak harus dibayar dengan kerusakan lingkungan dan hilangnya jati diri bangsa.