Literasi

OPINI: CES 2026 – Ketika Masa Depan yang Diharapkan Mulai Menjadi Nyata

×

OPINI: CES 2026 – Ketika Masa Depan yang Diharapkan Mulai Menjadi Nyata

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Setiap awal Januari, CES (Consumer Electronics Show) selalu menjadi cermin dari apa yang akan kita pakai, lihat, dan bahkan rasakan dalam 12 bulan ke depan — dan kali ini, cermin itu memantulkan citra yang lebih kompleks daripada sekadar gadget baru. Ini adalah tahun di mana AI bukan lagi fitur kelas atas , tetapi platform fundamental yang mengikat hampir setiap produk menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas.

Apa yang dulu kita anggap sebagai kecerdasan buatan “mainan”, kini bertransformasi menjadi AI fisik (physical AI), yang tidak hanya menghitung atau mengenali wajah — tapi ikut bergerak dan bertindak di dunia nyata. Robot humanoid yang mendekati kemampuan manusia, perangkat yang bisa membersihkan rumah multilevel , hingga mobil otonom futuristik, semua dipamerkan bukan sebagai prototipe jauh di masa depan, tetapi sebagai visi mulai terwujud tahun ini.

Ini bukan lagi soal “AI akan membantu TAHU apa yang Anda inginkan” — ini soal AI yang ikut berinteraksi, bahkan mengatur hidup Anda di dalam rumah dan di jalan raya .

Tetapi di balik semua itu, muncul pertanyaan penting: Apakah kita benar-benar siap untuk semua ini?

AI fisik membawa keuntungan besar, tetapi juga kekhawatiran tentang privasi, pekerjaan, dan bahkan hubungan manusia-mesin yang semakin intim.

Layar Raksasa yang Menguasai Ruang Hidup

Tech lovers tentu terpukau oleh TV dan layar skala besar yang memukau: Samsung memamerkan TV Micro RGB 130 inci yang seolah menjadi jendela ke dunia lain, terus mengaburkan batas antara TV dan karya seni digital. LG tak kalah agresif dengan teknologi OLED dan robot rumah yang benar-benar melakukan tugas sehari-hari, seperti melipat pakaian dan mengoperasikan peralatan dapur.

Ini memberi kesan bahwa ruangan hidup kita segera menjadi teater interaktif raksasa , di mana layar dan AI tidak hanya “ada”, tetapi aktif memicu respons emosional dan kebutuhan konsumsi konten kita .

Robotik dan AI sebagai “Asisten Super Pribadi”

Di tengah semua inovasi besar dan mewah itu, Lenovo tampil dengan AI voice assistant yang disebut Qira , yang dirancang untuk menjembatani banyak perangkat dalam satu ekosistem — mulai dari PC hingga wearable. Ini menandakan bahwa para pembuat perangkat kini berlomba untuk masuk ke posisi paling personal dalam hidup digital Anda : bukan hanya gadget, tetapi “AI super agent”.

Tak hanya produk serius, CES 2026 juga memamerkan gadget-gadget yang membuat kita tertawa, terpesona, atau bertanya: Siapa yang sebenarnya butuh ini?
Contohnya:

  • LEGO Smart Bricks yang membawa pengalaman fisik bermain menjadi digital interaktif.
  • Robot vacuum yang naik turun tangga layaknya droid masa depan.
  • Bahkan perangkat harian dengan fitur teknologi yang borderline absurd.

Inilah ciri khas CES: inovasi benar-benar tanpa batas yang terkadang juga tanpa filter.

Secara keseluruhan, CES 2026 menyuguhkan masa depan yang semakin konkret :

✔ AI menjadi inti dari setiap perangkat , tidak hanya sebagai fitur tambahan.
✔ Robot dan otomasi bukan lagi sekadar demo, tetapi konsep hidup baru di rumah dan industri.
✔ Perangkat visual dan hiburan mendominasi ruang hidup kita , membawa pengalaman media ke level lebih imersif.

Namun, di balik semua gemerlap itu, ada nada yang lebih halus namun penting: kita belum punya jawaban lengkap tentang bagaimana menghadapi implikasi sosial, etika, dan ekonomi dari gelombang inovasi ini . Ini bukan sekadar soal apa yang bisa dibuat oleh teknologi — tetapi apa yang seharusnya dibuat untuk kehidupan yang lebih manusiawi.

CES 2026 bukan hanya tentang gadget yang lebih pintar — tetapi tentang tantangan kita sebagai pengguna, pembuat kebijakan, dan manusia dalam menghadapi teknologi yang terus mendefinisikan ulang hidup kita.

Penulis: Oki Rosgani, pemerhati dan praktisi teknologi, bisa dihubungi di X|IG: @rosgani