KeluargaMegapolitan

Harga Minyak Dunia Dibayangi Lonjakan Ekstrem Usai Serangan AS-Israel ke Iran

×

Harga Minyak Dunia Dibayangi Lonjakan Ekstrem Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Sebarkan artikel ini
Israel dan Iran saling serang kilang minyak. Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan mengancam stabilitas pasar energi global. Serangan militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) diproyeksikan akan memicu gejolak hebat pada harga minyak mentah dunia.

Kepanikan pasar diprediksi jauh melampaui sentimen yang muncul saat AS melakukan intervensi di Venezuela dan menahan mantan Presiden Nicolas Maduro beberapa waktu lalu. Hal ini mengingat posisi strategis Iran dalam rantai pasok energi global.

“Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela,” tegas Florian Weidinger, CIO di Santa Lucia Asset Management, seperti dikutip dari CNBC, Minggu (1/3/2026).

“Anda dapat memperkirakan harga minyak akan naik lebih tajam minggu depan sebagai akibatnya,” tambahnya.

Ancaman Pemblokiran Selat Hormuz

Faktor utama yang membuat pasar sangat sensitif terhadap konflik ini adalah potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai langkah balasan. Selat sempit yang berada di antara Teluk Oman dan Iran ini merupakan urat nadi utama perdagangan minyak dunia.

Berdasarkan data dari lembaga intelijen pasar Kpler, sepanjang tahun 2025, volume minyak mentah yang melintasi jalur tersebut mencapai sekitar 13 juta barel per hari. Angka ini merepresentasikan sekitar 31% dari total distribusi minyak global yang diangkut melalui jalur laut.

Sebagai informasi tambahan, penutupan Selat Hormuz tidak hanya akan memutus ekspor minyak dari Iran, tetapi juga melumpuhkan jalur distribusi negara-negara produsen utama OPEC lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Kondisi ini berisiko menciptakan krisis pasokan yang signifikan dan memicu inflasi global akibat mahalnya biaya energi.

“Venezuela adalah kisah produksi. [Iran] adalah kisah tentang titik hambatan,” ungkap Kenneth Goh, Private Wealth Management Director di UOB Kay Hian Singapura.

Belajar dari Pola Historis 2025

Para pelaku pasar diperkirakan akan berkaca pada peristiwa serupa pada pertengahan tahun lalu. Pada Juni 2025, saat Israel menargetkan fasilitas nuklir Iran, bursa saham global sempat terpuruk di awal sesi perdagangan. Namun, pasar kembali stabil setelah dipastikan bahwa arus pelayaran di Selat Hormuz tetap beroperasi normal.

“Itulah pola yang akan dirujuk pasar pada hari Senin,” kata Goh.

Lebih lanjut, ketegangan ini diproyeksikan memicu peralihan arus modal secara masif dari instrumen berisiko tinggi menuju aset-aset safe haven (lindung nilai). Dolar Amerika Serikat, Yen Jepang, dan logam mulia seperti emas diprediksi akan mengalami lonjakan permintaan yang tajam.

Alicia García-Herrero, Kepala Ekonom Asia-Pasifik di Natixis, memproyeksikan skenario pergerakan pasar pada pembukaan bursa Senin (2/3/2026) besok. Menurutnya, pasar saham global berpeluang terkoreksi tajam antara 1% hingga lebih dari 2%. Di pasar surat utang, yield obligasi pemerintah AS diperkirakan turun 5-10 basis poin, sementara harga minyak mentah diprediksi melesat antara 5% hingga 10%.

Melihat ketidakpastian ini, García-Herrero memberikan peringatan tegas kepada para investor untuk bersikap wait and see hingga ada kejelasan mengenai langkah balasan dari Teheran.

“jangan bertaruh pada hal yang berisiko,” pungkas Garcia.