JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Pada 20 Maret 2026, Bumi kembali mengalami fenomena astronomi yang dikenal sebagai ekuinoks Maret. Peristiwa ini menjadi momen ketika durasi siang dan malam di hampir seluruh wilayah dunia berlangsung dengan panjang yang hampir sama, masing-masing sekitar 12 jam.
Secara ilmiah, ekuinoks terjadi saat Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Dalam kondisi ini, kemiringan sumbu Bumi tidak condong ke arah maupun menjauhi Matahari, sehingga penyinaran terjadi secara relatif merata di kedua belahan Bumi. Istilah “ekuinoks” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “malam yang sama”, merujuk pada kesetaraan waktu siang dan malam.
Fenomena ini tidak terlepas dari kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,5 derajat. Kemiringan tersebut menyebabkan posisi Matahari tampak bergeser sepanjang tahun, yang dikenal sebagai gerak semu tahunan Matahari. Dalam siklus ini, ekuinoks menjadi titik peralihan saat Matahari melintasi ekuator, baik dari belahan selatan ke utara maupun sebaliknya.
Ekuinoks biasanya terjadi dua kali dalam setahun, yakni sekitar 20 atau 21 Maret dan 22 atau 23 September. Di belahan Bumi utara, peristiwa ini menandai awal musim semi, sementara di belahan selatan menjadi pertanda datangnya musim gugur.
Bagi wilayah yang berada di sekitar khatulistiwa seperti Indonesia, dampak ekuinoks tidak berupa perubahan musim yang ekstrem. Namun, posisi Matahari yang berada hampir tepat di atas kepala dapat menyebabkan suhu udara terasa lebih panas, terutama saat siang hari.
Selain itu, ekuinoks juga menjadi momen unik karena wilayah di sekitar kutub utara dan selatan berpotensi mengalami waktu terbit dan terbenam Matahari yang hampir bersamaan.
Meski tampak sederhana, fenomena ini mencerminkan keteraturan pergerakan Bumi dalam mengelilingi Matahari. Ekuinoks menjadi pengingat bahwa dinamika tata surya berlangsung dengan presisi tinggi, sekaligus memberi pengaruh nyata terhadap kehidupan di planet ini.
Sumber: detikcom





