MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com – Di tengah riuh lalu lintas dan hiruk pikuk sudut kota Majalengka, langkah kecil seorang bocah bernama Rezda (10) tak pernah benar-benar berhenti. Di usianya yang masih belia, ia memilih jalan yang tak biasa bagi anak seusianya: berjualan keliling demi membantu orang tua.
Dengan keranjang plastik kecil di tangannya, Rezda, yang memiliki nama lengkap Garezdar Fanegeri Zentrana, menyusuri berbagai titik keramaian. Mulai dari Alun-alun Majalengka, kawasan GGM, Munjul, hingga Cigasong, menjadi rute hariannya menjajakan kue-kue buatan sang ibu. Puding, kacang goreng, cireng, dan aneka jajanan lainnya ia tawarkan dengan senyum sederhana yang tak dibuat-buat.
Sudah tiga tahun ia melakukan itu. Tanpa keluhan berarti, tanpa pula pernah meminta upah.
“Tidak pernah minta upah, dikasihkan semua ke mamah. Soalnya suka ada yang ngasih,” ucapnya polos saat ditemui di simpang empat Kantor Kemenag Majalengka, Sabtu (28/3/2026).
Rezda adalah anak keenam dari sebelas bersaudara. Ia tak sendiri. Saudara-saudaranya juga turut membantu berjualan, meski berpencar di lokasi berbeda. Dalam keseharian yang penuh keterbatasan, keluarga ini menjadikan kebersamaan sebagai kekuatan utama.
Ia kini duduk di kelas 4 SD melalui program Paket A. Waktu belajarnya berbagi dengan aktivitas berjualan. Jika pagi, ia mulai berjalan sekitar pukul 08.00 WIB. Sementara siang hari, ia kembali berkeliling pukul 13.00 WIB. Sesekali, ia memilih beristirahat di rumah jika tubuhnya terasa lelah.
Meski begitu, Rezda tetaplah anak-anak. Ia mengaku suka bermain olahraga, meski tak pernah benar-benar punya waktu untuk bermain seperti teman-teman sebayanya. Ia juga belum diperbolehkan memegang ponsel.
“Kadang pegal kaki, suka demam. Tapi senang bisa bantu orang tua,” katanya dengan mata berbinar.
Di sela lelahnya berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, ia menyisihkan sedikit uang untuk makan. Kadang ia bertemu saudara yang juga berjualan, sekadar saling menyapa di tengah kerasnya jalanan.
Kisah kecilnya menyimpan keteguhan besar. Di balik langkahnya yang sering terasa pegal, tersimpan mimpi yang sederhana namun kuat: menjadi pengusaha sukses.
Namun ada satu hal yang sempat membuatnya terlihat kikuk—menyebutkan nama lengkapnya sendiri.
Saat ditanya, Rezda hanya tersenyum malu. Ia mencoba mengeja, lalu terdiam. Bahkan ketika diberikan kertas dan pulpen, ia tampak berpikir keras, menuliskan huruf demi huruf dengan penuh kehati-hatian
“Garezdar Fanegeri Zentrana,” tulisnya perlahan.
Nama yang panjang, unik, dan tak biasa untuk anak seusianya. Ia sendiri mengaku kerap kesulitan mengingatnya. “Kata ayah sih, nama dari orang,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Di balik nama yang sulit diucap itu, tersimpan cerita tentang ketulusan, kerja keras, dan cinta seorang anak untuk keluarganya. Rezda mungkin tak memiliki banyak hal seperti anak-anak lain. Namun ia punya sesuatu yang jauh lebih berharga: semangat, keteguhan, dan hati yang besar.
Langkah kecilnya hari ini, bisa jadi adalah awal dari perjalanan panjang menuju mimpi besarnya esok hari.
Echa





