MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com – Sebanyak 30 desa yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Majalengka kini dalam status waspada. Wilayah-wilayah tersebut diprediksi berpotensi kuat mengalami krisis air akibat kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Prediksi peta rawan bencana tersebut disusun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka berdasarkan data rujukan dari BMKG, BPBD Provinsi Jawa Barat, serta rekam jejak kasus kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BPBD Majalengka, Agus Tamim, menjelaskan bahwa pemetaan ini sengaja dilakukan lebih awal sebagai langkah preventif.
“Prediksi ini kami susun berdasarkan informasi dari BMKG, BPBD Provinsi Jawa Barat, serta data kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya. Ini menjadi dasar kami untuk melakukan langkah antisipasi lebih awal,” ujar Agus pada Jumat (3/7/2026).
Sebaran Wilayah Rawan Kekeringan
Berdasarkan data BPBD, titik rawan kekeringan di Kabupaten Majalengka tersebar luas mulai dari kawasan utara hingga selatan. Berikut adalah daftar kecamatan dan desa yang masuk dalam zona merah potensi kekeringan:
- Kecamatan Panyingkiran: Desa Bantrangsana, Jatisawit, Jatipamor
- Kecamatan Kadipaten: Desa Heuleut, Cipaku
- Kecamatan Jatitujuh: Desa Jatitujuh, Babajurang, Putridalem, Pilangsari
- Kecamatan Kasokandel: Desa Girimukti, Gandasari
- Kecamatan Kertajati: Desa Mekarmulya, Mekarjaya
- Kecamatan Majalengka: Kelurahan Cicurug, Kelurahan Cijati, Desa Cibodas, Sidamukti
- Kecamatan Palasah: Desa Cisambeng
- Kecamatan Cigasong: Desa Tenjolayar, Baribis, Kelurahan Cigasong, Kelurahan Simpeureum
- Kecamatan Lemahsugih: Desa Sadawangi, Mekarwangi
- Kecamatan Sumberjaya: Desa Paningkiran, Garawangi
- Kecamatan Leuwimunding: Desa Leuwimunding
- Kecamatan Bantarujeg: Desa Bantarujeg
- Kecamatan Ligung: Desa Kedungsari
- Kecamatan Dawuan: Desa Karanganyar
Langkah Mitigasi: Jamin Air Bersih dan Sektor Tani
Guna menekan dampak buruk kemarau panjang, BPBD Majalengka telah merancang strategi mitigasi multi-sektor yang berfokus pada dua aspek utama: pemenuhan kebutuhan air bersih domestik warga dan penyelamatan sektor pertanian.
- Edukasi dan Kesiapsiagaan Warga BPBD memaksimalkan program Desa Tangguh Bencana (Destana) untuk memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi langsung ke tingkat tapak. “Kami terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui Destana agar warga lebih siap menghadapi musim kemarau dan potensi kekeringan,” tutur Agus.
- Koordinasi Intelijen Cuaca & Pengamanan Penguatan koordinasi terus dijalin bersama BMKG, BPBD Jabar, TNI, serta Polri untuk memantau dinamika pergeseran cuaca secara real-time.
- Penyediaan Pasokan Air Bersih Jika sewaktu-waktu terjadi krisis air, BPBD telah menggandeng PDAM, PMI, serta sejumlah korporasi/perusahaan di sekitar wilayah terdampak agar distribusi bantuan air bersih via tangki bisa langsung dikerahkan tanpa hambatan birokrasi.
- Penyelamatan Lahan Pertanian Spesifik untuk sektor pangan, BPBD berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Sinergi ini berfokus pada rekayasa pola tanam yang adaptif terhadap minimnya air serta pengaturan sistem pengairan/irigasi secara berkala.
Melalui kesiapan yang matang dan kolaborasi lintas lini ini, Pemkab Majalengka berharap dampak kekeringan tahun ini bisa diredam seminimal mungkin sehingga aktivitas sosial maupun roda ekonomi pertanian warga tidak sampai lumpuh.
Sumber: detikJabar





