Megapolitan

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PBB dan Pemerintah RI Kecam Serangan terhadap Pasukan Perdamaian

×

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PBB dan Pemerintah RI Kecam Serangan terhadap Pasukan Perdamaian

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi: Tentara Indonesia yang ditempatkan sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon selatan, mengamati sebuah kendaraan Humvee tentara Israel yang diparkir di sisi perbatasan Lebanon-Israel, 10 Desember 2007. | Foto: Ali Dia/AFP via Getty Images

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon Selatan dalam naungan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Insiden tragis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut ini memicu kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Pemerintah Indonesia, serta mendorong DPR meminta evaluasi hingga penarikan pasukan.

Dua prajurit TNI dilaporkan meninggal dunia pada Senin (30/3/2026) setelah sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di wilayah dekat Bani Hayyan, Lebanon Selatan. Ledakan tersebut menghancurkan kendaraan yang mereka tumpangi dan juga menyebabkan sejumlah prajurit lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi kabar tersebut. “Dua prajurit TNI dilaporkan gugur,” ujarnya.

Sebelumnya, satu prajurit TNI lainnya, Praka Farizal Rhomadhon, gugur pada Minggu (29/3/2026) akibat serangan artileri yang menghantam markas kontingen Indonesia di Kota Adshit al-Qusyar, Lebanon Selatan. Dalam insiden itu, tiga prajurit lainnya mengalami luka-luka, dengan satu di antaranya dalam kondisi berat dan telah dievakuasi ke rumah sakit di Beirut untuk penanganan lanjutan.

PBB menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban dari pasukan penjaga perdamaian Indonesia. Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyatakan belasungkawa kepada Pemerintah Indonesia dan keluarga korban. Ia juga menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.

“Para penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” tegas Lacroix dalam pernyataannya di Markas Besar PBB, New York.

PBB menyatakan tengah melakukan investigasi terhadap dua insiden mematikan tersebut. Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi untuk mengetahui secara pasti penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri turut mengutuk keras insiden tersebut dan mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh dan transparan. Menteri Luar Negeri Sugiono juga menyerukan deeskalasi konflik di wilayah tersebut melalui jalur diplomasi.

“Meminta investigasi penuh dari UNIFIL untuk menemukan sumber insiden ini dan meminta semua pihak melakukan deeskalasi,” ujar Sugiono.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mengecam serangan tersebut dan mengingatkan semua pihak untuk menghormati hukum internasional serta menjamin keselamatan personel PBB.

Di sisi lain, anggota DPR RI Dave Laksono meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keberadaan pasukan TNI di Lebanon. Ia menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh, termasuk kemungkinan penarikan pasukan demi keselamatan prajurit Indonesia.

Misi UNIFIL sendiri telah berlangsung sejak 1978 dengan melibatkan lebih dari 8.000 personel dari hampir 50 negara. Pasukan ini bertugas menjaga stabilitas kawasan, memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon Selatan, serta membantu pemulihan keamanan dan pemerintahan di wilayah tersebut.

Insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI ini menambah daftar risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian Indonesia di wilayah konflik, sekaligus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam menentukan langkah ke depan terkait keterlibatan dalam misi internasional tersebut.

Sumber: CNN Indonesia