Profil

Kisah Pedagang Boboko asal Majalengka Belasan Tahun Menabung Demi Naik Haji

×

Kisah Pedagang Boboko asal Majalengka Belasan Tahun Menabung Demi Naik Haji

Sebarkan artikel ini

MAJALENGKA, TINTAHIJAU.COM – Pagi belum sepenuhnya terang ketika Eye Sunarya mulai bersiap. Di pundaknya, pikulan berisi boboko dan anyaman bambu menggantung seimbang. Langkahnya pelan namun pasti, menyusuri jalan kampung demi kampung, menawarkan dagangan dari rumah ke rumah.

Warga sekitar mengenalnya sebagai Wa Mumu. Pria 54 tahun asal Blok Minggu, Dusun Cisampih, Desa Tarikolot, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka itu telah puluhan tahun menjalani hidup sederhana sebagai pedagang boboko keliling.

Di tengah zaman yang serba cepat, ketika banyak pedagang memilih sepeda motor atau mobil bak terbuka, Wa Mumu tetap setia dengan cara lama: memikul dagangan di bahu.Bukan karena tak ingin berubah, tetapi karena itulah jalan hidup yang ia jalani sejak muda.

Sejak lulus Sekolah Dasar pada 1981, Wa Mumu sudah akrab dengan bambu, boboko, dan peluh. Ia mengambil barang dari kerabat yang menjadi pengrajin, lalu menjualnya berkeliling ke wilayah Palasah hingga Leuwimunding.

“Setiap hari saya berkeliling membawa boboko dan anyaman dari bambu. Saya ambil dari saudara yang menjadi pengrajin, lalu saya jual ke kampung-kampung,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (23/4/2026).

Namun di balik langkah panjang itu, Wa Mumu menyimpan mimpi yang jauh lebih besar: menunaikan ibadah haji.Mimpi itu bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dipupuk oleh doa dan keyakinan, lalu dijaga dengan disiplin luar biasa. Pada 2013, ketika penghasilannya hanya sekitar Rp30 ribu per hari, Wa Mumu memberanikan diri mendaftarkan haji bersama sang istri, Siti Mariah.

Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terasa mustahil. Namun bagi Wa Mumu, mimpi harus dimulai meski dengan langkah kecil.Setiap hari, dari penghasilan yang terbatas, ia menyisihkan Rp10 ribu untuk tabungan haji. Separuh pendapatan disimpan, sisanya dipakai memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ia memegang teguh nasihat orang tuanya: hidup sederhana, jangan berlebihan, dan biasakan menabung.Tahun demi tahun berlalu. Pikulan boboko tetap berada di pundaknya, tetapi harapan tak pernah lepas dari hati. Hingga akhirnya, penantian panjang itu tiba di ujung jalan.

Pada musim haji 2026, Wa Mumu dan istrinya resmi menjadi calon jemaah haji Kloter 06 asal Majalengka. Keduanya dijadwalkan berangkat pada Minggu, 26 April 2026 melalui Bandara Internasional Kertajati.Kabar keberangkatan itu membuat warga sekitar ikut haru dan bangga.

“Pak Mumu itu orangnya sabar dan ulet. Dari dulu memang sudah punya niat kuat untuk berhaji. Kami ikut bangga akhirnya bisa terwujud,” ujar H. Rega, salah seorang tetangganya.

Hal senada disampaikan Wiwi. Menurutnya, Wa Mumu adalah sosok pekerja keras yang pantang menyerah.

“Setiap hari keliling, tetap semangat. Ini jadi contoh bagi kami semua bahwa kerja keras dan konsistensi itu penting,” katanya.

Bagi warga, kisah Wa Mumu bukan sekadar cerita tentang seseorang yang berangkat haji. Ini adalah kisah tentang kesabaran yang tak putus, kerja keras yang tak lelah, dan keyakinan yang tak pernah padam.

Dari pikulan boboko yang sederhana, Wa Mumu membuktikan bahwa mimpi besar bisa dicapai siapa saja—asal mau berjuang, tekun menabung, dan tak berhenti berharap.