SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Pemahaman masyarakat mengenai keperawanan masih dipenuhi berbagai mitos yang belum tentu benar secara medis.
Salah satu anggapan yang paling sering dipercaya adalah bahwa keperawanan dapat diketahui dari kondisi selaput dara atau tanda fisik tertentu pada perempuan.
Padahal, dalam dunia medis, tidak ada ciri fisik pasti yang bisa menentukan seseorang pernah atau belum pernah melakukan hubungan seksual.
Selaput Dara Bukan Penentu Mutlak
Tenaga kesehatan menjelaskan bahwa bentuk dan kondisi selaput dara setiap perempuan berbeda-beda. Ada yang tipis, elastis, bahkan ada yang sejak lahir memiliki bentuk yang sangat kecil atau tidak mudah terlihat.
Selain karena hubungan seksual, perubahan pada selaput dara juga dapat terjadi akibat aktivitas fisik seperti olahraga, bersepeda, senam, maupun faktor alami tubuh.
Tidak Semua Wanita Mengalami Perdarahan
Mitos lain yang masih berkembang adalah anggapan bahwa perempuan pasti mengalami perdarahan saat pertama kali berhubungan seksual.
Secara medis, kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Ada perempuan yang mengalami perdarahan ringan, namun ada pula yang tidak mengalami perdarahan sama sekali karena dipengaruhi elastisitas jaringan tubuh masing-masing.
Tes Keperawanan Dinilai Tidak Ilmiah
Dunia medis juga menegaskan bahwa tidak ada pemeriksaan yang benar-benar dapat memastikan status keperawanan seseorang. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut praktik tes keperawanan tidak memiliki dasar ilmiah dan tidak dianjurkan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap mitos yang berpotensi menimbulkan stigma maupun tekanan psikologis terhadap perempuan.
Edukasi Kesehatan Reproduksi Dinilai Lebih Penting
Tenaga kesehatan menilai edukasi kesehatan reproduksi, pemahaman tentang tubuh, serta hubungan yang sehat jauh lebih penting dibanding memperdebatkan mitos soal keperawanan.
Masyarakat juga diimbau memperoleh informasi dari sumber medis terpercaya agar tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.





