Megapolitan

TGH Turmudzi Masuk Bursa AHWA PBNU, PWNU NTB Siapkan Komunikasi Nasional

×

TGH Turmudzi Masuk Bursa AHWA PBNU, PWNU NTB Siapkan Komunikasi Nasional

Sebarkan artikel ini

MATARAM, TINTAHIJAU.com — Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengusulkan nama TGH Turmudzi Badaruddin sebagai salah satu calon anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sekretaris PWNU NTB, Lalu Daud Nurjadi, mengatakan usulan tersebut merupakan hasil kesepahaman antara PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-NTB.

“PWNU dan PCNU se-NTB mengusulkan beliau yang pertama sebagai anggota AHWA PBNU,” ujar Lalu Daud di Mataram, seperti yang dimuat di laman KOMPAS.tv, Rabu (17/6/2026).

AHWA sendiri merupakan forum ulama yang memiliki posisi strategis dalam struktur organisasi NU. Forum ini berperan penting dalam proses penentuan kepemimpinan Syuriyah di tingkat pusat, termasuk dalam mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU.

Sejauh ini, sejumlah nama ulama sepuh NU disebut masuk dalam bursa calon anggota AHWA PBNU. Selain TGH Turmudzi Badaruddin, nama yang beredar antara lain KH Mustofa Bisri, KH Miftachul Akhyar, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Jazuli, KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siraj, KH Asep Syaifuddin Chalim, serta KH Nasaruddin Umar.

Menurut Lalu Daud, TGH Turmudzi dinilai memiliki integritas, kedalaman ilmu agama, serta ketokohan yang kuat di kalangan warga Nahdliyin, baik di NTB maupun tingkat nasional. Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu itu dinilai layak menjadi bagian dari AHWA PBNU.

PWNU NTB juga menilai TGH Turmudzi memiliki kapasitas untuk menjaga arah organisasi dan mempertahankan marwah NU.

“Tidak ada keraguan lagi pada sosok beliau dalam menjaga marwah NU,” kata Lalu Daud.

Ia menjelaskan, salah satu pertimbangan utama adalah sanad keilmuan TGH Turmudzi yang dinilai kuat dan jelas. TGH Turmudzi menempuh pendidikan pesantren lokal di bawah bimbingan TGH Soleh Hambali Bengkel, kemudian melanjutkan pendalaman ilmu di Makkah kepada sejumlah ulama terkemuka.

Selain latar belakang keilmuan, pengalaman organisasi juga menjadi faktor penting. TGH Turmudzi tercatat aktif di lingkungan NU sejak 1970 dan pernah menduduki berbagai posisi strategis dari tingkat ranting hingga pusat.

Lalu Daud menyebut TGH Turmudzi juga pernah menjadi anggota AHWA pada muktamar-muktamar PBNU sebelumnya, sehingga dinilai memahami mekanisme, etika, dan tanggung jawab dalam proses pemilihan Rais Aam.

Di sisi lain, Datok Bagu dikenal konsisten menjaga paham Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah serta mempertahankan tradisi keilmuan pesantren. Melalui kiprahnya di Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu, ia dinilai telah melahirkan banyak kader ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat.

Karier organisasi TGH Turmudzi di NU juga disebut dimulai dari jenjang bawah, mulai dari Rais Syuriyah Ranting Bagu, MWC, PWNU hingga menjabat Mustasyar PBNU.

“Rekam jejaknya menunjukkan pemahaman menyeluruh terhadap kultur organisasi NU,” ujar Lalu Daud.

PWNU dan PCNU se-NTB selanjutnya berencana membangun komunikasi dengan PWNU dan PCNU di berbagai daerah di Indonesia guna menyampaikan usulan tersebut menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.