BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Banyak hati yang terpikat dan larut dalam bait-bait lagu legendaris Ibu Pertiwi, namun acapkali mata kita luput dari jemari yang merajut nadanya. Di balik riuh tepuk tangan dan gemerlap panggung yang membesarkan nama-nama penyanyi hebat lintas generasi, ada sesosok jiwa yang memilih setia dalam sepi kreatifnya.
Dialah Oetje F. Tekol, seorang maestro kelahiran Kota Kembang, Bandung, pada 22 Maret 1950. Pria yang akrab disapa Uce ini bukan sekadar pemetik dawai bass, melainkan seorang penyair kehidupan yang melarungkan rasa, gelisah, dan cinta ke dalam samudra musik Indonesia selama lebih dari enam dekade.
Nama Oetje mungkin tak seharum para biduan yang melantunkan buah pikirannya. Namun, laksana akar yang memeluk bumi demi tumbuhnya pohon yang rindang, jejak musikalitasnya menghujam sangat dalam ke dalam sejarah musik nasional.
Bakat musik Oetje telah bersemi sejak masa remajanya yang penuh pencarian. Di bangku sekolah menengah, jiwanya mengembara dari ketukan drum hingga petikan gitar melodi. Namun, takdir rupanya menjatuhkan pilihan pada gitar bass; instrumen rendah yang tak pernah berteriak, namun menjadi jantung yang menghidupkan seluruh irama. Bass itulah yang kemudian menjadi sahabat sejatinya, tempat ia menitipkan bisikan kalbu yang paling dalam.
Langkah awalnya dirajut pada tahun 1963 melalui grup musik Risnada, mengetuk dari panggung sekolah hingga hajatan kampung demi mematangkan rasa. Memasuki gerbang remaja yang lebih dewasa, jemarinya sempat beralih memeluk stik drum bersama grup Players (1967–1968) dan Diablo (1968–1972), mengiringi malam-malam Bandung di berbagai sudut klub. Siapa yang menyangka, malam ketika Diablo didaulat menjadi band pembuka bagi raksasa jazz rock The Rollies adalah malam di mana semesta sedang membukakan pintu takdir yang agung bagi hidupnya.
Tahun 1973 menjadi sebuah titik balik yang syahdu. Oetje melangkah masuk ke dalam dekapan The Rollies, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh Deddy Stanzah. Di sanalah permainan bassnya meniupkan roh baru—sebuah perkawinan rasa antara jazz rock, funk, soul, dan pop yang begitu megah. Namun, Oetje bukan sekadar penjaga ritme. Ia adalah mata air melodi. Lagu pertamanya, “Keadilan” (1977), langsung merebut hati dan menjelma menjadi judul album mereka, menandai lahirnya era baru bagi band legendaris tersebut.

Namun, jika kita berbicara tentang puncak kepekaan jiwanya, maka ingatan kita akan bermuara pada lagu “Kemarau”. Lagu monumental ini lahir bukan dari khayalan kosong, melainkan dari sebuah duka lara yang ia saksikan sepanjang jalan aspal antara Bandung dan Jakarta. Matanya menatap pedih pada hutan-hutan yang gundul, dikuliti oleh keserakahan manusia. Kegelisahan itu ia tumpahkan menjadi bait-bait yang begitu menyentuh hati nurani.
Lagu itu bukan sekadar hiburan; ia adalah doa dan peringatan. Begitu dalamnya pesan ekologis dalam “Kemarau” hingga pada tahun 1979, negara melalui Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, menganugerahinya Penghargaan Kalpataru. Oetje membuktikan bahwa musik memiliki kuasa untuk mengetuk pintu kesadaran manusia dan memeluk alam yang sedang terluka.
Keindahan karya Oetje F. Tekol laksana air yang mengalir tenang, memberi hidupan pada petak-petak sawah di sekitarnya. Sebagai pencipta lagu yang sangat produktif, ia tidak hanya menghidupkan napas The Rollies dan sahabat-sahabatnya seperti Gito Rollies, Deddy Stanzah, dan Delly Rollies. Sentuhan dinginnya juga mengalir ke dalam pita suara para diva dan penyanyi papan atas Tanah Air.
Dari suara emas Vina Panduwinata, Grace Simon, Ira Maya Sopha, Betharia Sonata, Andi Meriem Mattalatta, Farid Hardja, Jacky Bahasoan, Trio Libels, hingga Rossa yang anggun, semuanya pernah mencicipi indahnya melodi ciptaan Oetje. Melalui jalinan jemarinya bersama gitaris Ian Antono, lahir pula karya-karya tajam yang ikut mengarsiteki kesuksesan Nicky Astria, Anggun C. Sasmi, Atiek CB, Ita Purnamasari, Kiki Maria, dan Yosie Lucky.
Kelenturan jiwanya dalam bermusik juga membawanya berkelana melintasi ruang-ruang kreatif yang berbeda, mulai dari grup progresif Giant Step awal era 80-an, hingga melebur dalam keindahan Badai Band bersama maestro-maestro besar sekelas Jockie Soerjoprajogo, Idris Sardi, dan Chrisye.

Puluhan kidung abadi telah ia titipkan pada waktu: “Hari-hari”, “Burung Kecil”, “Astuti”, “Indonesia”, “Sobat Muda”, “Dunia Semakin Tua”, “Musik Kami”, “Namamu”, “Selamat Malam Kekasih”, “Dongeng”, hingga “Home Again”. Semuanya adalah prasasti dari seorang pengelana sunyi yang berbicara lewat keindahan nada.
Oetje F. Tekol adalah bukti nyata bahwa keagungan sejati tidak selalu harus berdiri di bawah terangnya lampu sorot panggung. Terkadang, ia memilih setia dalam senyap, menjadi kompas yang menuntun harmoni, dan membiarkan karyanya yang berbicara memeluk waktu.
Ia mengajarkan kepada kita semua bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi—seperti udara yang tak terlihat namun menghidupkan, atau seperti petikan bass yang rendah namun mampu menggetarkan relung jiwa yang paling dalam. Ketika dunia bising mencari panggung, biarlah karya-karya kita yang sunyi menjadi abadi, mengalir melintasi zaman, dan menjadi berkat yang tak pernah lekang oleh waktu.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani





