Profil

David Manuhutu, Pianis Jazz Indonesia yang Menyatukan Harmoni Dunia dan Kekayaan Budaya Nusantara

×

David Manuhutu, Pianis Jazz Indonesia yang Menyatukan Harmoni Dunia dan Kekayaan Budaya Nusantara

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Panggung jazz tanah air tak pernah sepi dari kepakan sayap-sayap talenta yang terbang melintasi batas samudera. Di antara deretan nama yang mengharumkan bumi pertiwi, terukirlah nama David Manuhutu—seorang perajin nada, penggubah harmoni, pemetik panggung, peramu musik, sekaligus pelita bagi jiwa-jiwa yang ingin belajar. Karakter musikalitasnya layaknya sebuah jembatan ghaib, tempat bahasa jazz modern yang megah saling berpelukan mesra dengan rona mistis dan kekayaan tradisi musik leluhur Nusantara.

Dilahirkan di bawah naungan atap yang sarat akan embusan napas seni, jemari kecil David telah jatuh cinta pada bilah-bilah hitam putih piano klasik sejak usia belia, kala usianya baru menginjak lima warsa. Selama tujuh belas tahun, ia menenun mimpi dalam disiplin klasik yang sunyi, hingga takdir memanggilnya untuk melangkah ke jalur profesional saat seragam sekolah menengah atas masih melekat di raga. Di bawah bimbingan lembut seorang maestro jazz senior di kota kelahirannya, bakat alaminya ditempa dalam tungku improvisasi, memperdalam rasa, dan mempertajam jemari meniti labirin musik jazz yang penuh teka-teki.

Darah seni yang mengalir dalam nadi David bukanlah aliran air yang tanpa hulu. Ia adalah putra dari Venche Manuhutu, sebatang pohon rindang dalam rimba jazz Indonesia yang hidupnya diwakafkan untuk nada. Sang ayah, seorang pemetik gitar legendaris yang merengkuh takhta Juara I Festival Gitar Indonesia 1984, adalah seorang guru dan mentor yang memahat sejarah dengan mendirikan Venche Music School di Bandung pada tahun yang penuh kenangan, 1990. Langkah pengabdian Venche tak berhenti di sana; ia sempat menakhodai DjazzMusik School Jakarta dan meniupkan roh seni pada program Musik dan Seni di Universitas Kristen Maranatha. Dedikasi tanpa pamrih dan cinta tak bersyarat sang ayah pada semesta musik inilah yang menjadi fondasi batu karang, tempat David membangun menara artistiknya yang kini menjulang.

Langkah kaki David kian menjauh, mengikuti ke mana angin harmoni membawanya pergi. Ia melanglang buana, menitipkan petikan melodinya di panggung-panggung megah nan sunyi: dari riuhnya Jakarta International Java Jazz Festival, syahdunya Ubud Village Jazz Festival di bawah langit Bali, megahnya Shanghai World Expo di negeri tirai bambu, hangatnya Ngayogjazz di tanah Yogyakarta, hingga Singapore Wine & Jazz Festival yang penuh rona. Jejak keemasannya telah tercium sejak belia, kala ia meraih mahkota Grand Champion dalam ajang Singapore International Performing Arts Junior Championship, sebuah pembuktian awal dari jiwa muda yang digerakkan oleh rindu akan keindahan.

Kemahiran jemarinya menari di atas tuts piano membuka gerbang-gerbang pertemuan dengan para petualang nada sejagat. Jiwa musiknya berpadu dalam sebuah pengembaraan melintasi Nusantara bersama Oran Etkin, sang peniup jiwa pemenang Grammy Award. Tak hanya itu, di bawah langit Ambon Jazz Festival yang berbisik, ia menyandingkan harmoninya dengan dawai gitar David Becker, sang nominator Grammy. Keberanian dan kelihaian David di atas panggung memikat mata dunia, hingga media jazz tanah air menyematkan julukan penuh kehormatan baginya: “Indonesian Young Lion”—sang singa muda yang mengaum lembut dalam keindahan harmoni.

Kerinduan akan ilmu membawa David menyeberangi samudera luas kala ia dianugerahi North American Tour Scholarship, sebuah beasiswa yang mengantarkannya ke altar suci Berklee College of Music di Amerika Serikat. Di sana, ia menyelesaikan dahaga akademisnya dalam bidang Music Performance. Namun, pencarian belum usai. Jiwa seninya kembali menuntunnya mereguk ilmu yang lebih dalam; dengan sokongan penuh dari beasiswa LPDP, ia melanjutkan pengembaraan magisternya dalam Jazz Studies di New York University, sebuah tempat di mana mimpi-mimpi metropolitan melebur bersama melodi malam.

Selama bermukim di bawah gemerlap dan dinginnya New York City, David beruntung dapat meminum langsung air kearifan dari cawan para maestro gitar jazz ternama, Adam Rogers dan Peter Bernstein. Embusan napas kota metropolitan dan petuah para guru itu meresap ke dalam sumsum kreativitasnya, hingga melahirkan buah hati artistik pertamanya—album debut bertajuk A Journey. Dirilis pada dinginnya bulan Februari 2017 di bawah bendera Demajors, album ini menjadi catatan harian pertamanya tentang sebuah perjalanan rasa yang jujur.

Pada warsa 2018, David kembali menorehkan tinta emas pada kanvas musikalnya melalui mahakarya bertajuk Journey to the Magical Islands. Album ini layaknya sebuah cermin bening dari jiwanya yang terbelah namun menyatu: sebuah upaya sakral untuk mengawinkan ketatnya disiplin musik Barat—terutama jazz akademis—dengan kelembutan tradisi serta rona magis musik tradisional Indonesia. Lewat untaian komposisi dan improvisasi yang kaya warna, ia seolah melukis kembali wajah keberagaman bunyi Indonesia dalam sebuah kanvas jazz yang penuh keajaiban.

Tak pernah ia melupakan akar bumi tempatnya tumbuh; David terus menjalin kasih musikal dengan para seniman tanah air. Kebersamaannya dalam riak Indro Hardjodikoro Project membuahkan apresiasi tinggi berupa tiga nominasi dalam ajang bergengsi Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards). Langkah kakinya juga beriringan dalam tur bersama peniup saksofon pemenang Grammy, Chad Lefkowitz-Brown, serta sang legenda pembawa rindu musik pop Indonesia, Andre Hehanusa. Melodi-melodi indahnya pun terbang melayang, menyapa telinga para pencinta sunyi di panggung Jepang dan Singapura.

Garis waktu mencatat dedikasinya yang tak kenal lelah. Di antara rentang tahun 2014 hingga 2016, ia menantang dinginnya malam sebagai musisi profesional di kawasan New York Metropolitan Area. Kerinduan pada tanah air memanggilnya pulang untuk mengabdi sebagai Music Director di D’Jazz Music School Jakarta sepanjang kurun waktu 2017 hingga 2019. Dan kini, sejak tirai tahun 2023 dibuka hingga detik ini, ia meluaskan bentangan sayap internasionalnya, menjadi sang penjinak bilah piano di atas kemegahan kapal pesiar Royal Caribbean International, mengarungi samudera luas sembari mengalunkan nada di tengah deburan ombak dunia.

Kendati raga dan melodinya terus mengitari lingkar bumi, hati David tak pernah bergeser dari pelukan hangat ibu pertiwi. Bagi seorang David Manuhutu, Indonesia adalah rumah tempat mengistirahatkan lelah, sekaligus hulu dari segala mata air inspirasi kreatifnya. Berdiri tegak sebagai seorang pianis, komponis, produser, dan pendidik, ia tiada henti melukis wajah baru jazz Indonesia: sebuah wajah yang modern, ramah menyapa segala angin pembaruan, namun kakinya tetap menancap kokoh jauh ke dalam tanah subur kekayaan budaya Nusantara.

Perjalanan seorang David Manuhutu membisikkan sebuah pesan sunyi ke dalam lubuk hati kita: bahwa sejauh apa pun jemari melangkah melintasi benua, dan setinggi apa pun sayap kita mengepak di langit dunia, keindahan sejati hanya akan tercipta ketika kita tidak melupakan tanah asal tempat mimpi pertama kali dieja. Bagi setiap jiwa yang saat ini sedang merajut asa di tengah kesunyian dan keletihan, ketahuilah bahwa setiap ketukan batin yang berat dan pengorbanan yang menguras air mata adalah bait-bait melodi yang sedang bersiap menemui simfoni indahnya. Jangan pernah lelah meniti bilah-bilah kehidupan yang kadang hitam dan putih, sebab justru dari perpaduan kedua warna itulah, sebuah harmoni yang luar biasa akan mengalun—menggetarkan semesta, memotivasi dunia, dan mengabadikan jejak indah Anda di relung hati sesama.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani