TASIKMALAYA, TINTAHIJAU.com — Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Sungai Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, pada Sabtu (2/11/2025), memicu banjir lumpur yang merendam sedikitnya 14 rumah warga di Kampung Cihaseum, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, bencana ini menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah rumah serta lahan pertanian warga.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Cahyono, menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat longsoran tanah di wilayah hulu yang tak mampu menahan beban air hujan berintensitas tinggi.
“Banjir lumpur di Sukaratu bukan disebabkan tanggul jebol, melainkan karena struktur penahan tanah di lereng yang tidak kuat menahan beban air. Longsoran di hulu membuat air tertahan dan akhirnya meluap membawa material lumpur,” jelas Cahyono, Minggu (2/11/2025).
Menurutnya, curah hujan tinggi yang terjadi sejak sore hari membuat air meluap cepat dan membawa material tanah serta batu ke permukiman warga. Akibatnya, selain rumah-rumah warga, area persawahan di sekitar bantaran sungai juga mengalami kerusakan cukup berat.
Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, menyoroti adanya aktivitas tambang pasir ilegal di kawasan hulu Sungai Galunggung yang diduga memperparah kondisi alam dan menjadi pemicu utama terjadinya banjir lumpur tersebut.
“Kami menyoroti aktivitas tambang pasir di daerah hulu sungai yang diduga menjadi penyebab utama derasnya air bah. Pemerintah daerah meminta Pemprov Jawa Barat meninjau ulang perizinan tambang yang merugikan masyarakat,” tegas Asep.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, PMI, serta aparat pemerintah desa langsung diterjunkan ke lokasi terdampak untuk melakukan pembersihan lumpur, pendataan kerusakan, dan menyalurkan bantuan darurat kepada warga. Hingga Minggu malam, proses pembersihan masih berlangsung di sejumlah titik terdampak banjir lumpur.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengimbau masyarakat di sekitar daerah aliran Sungai Galunggung agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan dan peningkatan debit air, mengingat curah hujan di wilayah selatan Jawa Barat masih tinggi dalam beberapa hari terakhir.





