Entertainmen

Deru Nafas Baru AkayassukA Menembus Altar Rock Indonesia

×

Deru Nafas Baru AkayassukA Menembus Altar Rock Indonesia

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Waktu boleh bergulir, namun api dalam dada tak pernah benar-benar padam. Ia hanya meredup, mengumpulkan daya, untuk kemudian berkobar kembali menjadi nyala yang lebih megah.

Sebuah mahakarya yang lahir dari rahim tahun 2016 dalam album Kita Indonesia, kini menjemput takdir barunya. Bertajuk “TANGGUH”, lagu ini bukan sekadar goresan masa lalu yang usang dimakan zaman. Lewat jemari waktu dan dinamika jiwa para pengelana musik, AkayassukA memilih untuk membasuh karya ini dengan nafas yang lebih segar, memanifestasikan sebuah kebangkitan yang telah lama dinanti.

Merajut Asa di Antara Dawai dan Dentum

Kisah pembaruan ini bermula pada medio 2023. Di bawah temaram lampu studio dan kepulan ambisi, melodi lama mulai diurai kembali. AkayassukA menolak untuk sekadar mengulang sejarah; mereka ingin menulis ulang takdir lagu ini. Tanpa melarung jiwa rock murni yang telah menjadi detak jantung mereka, aransemen baru ditenun dengan begitu magis.

Hingga akhirnya, di bawah sasi Mei 2026 yang syahdu, versi mutakhir “TANGGUH” resmi dilepas ke udara, menjelma menjadi sebuah simfoni perlawanan terhadap sunyi.

Lahirnya nafas baru ini tidak lepas dari raga-raga terpilih yang menyatukan rasa:

  • Anes Krisminarno – Vokal
  • Nadian Govar – Gitar
  • Zaenal – Additional Guitar
  • Taufik Opey – Bass Guitar

Filosofi Keteguhan di Pusaran Zaman

Bagi Anes, sang nahkoda sekaligus pemilik vokal yang menyayat kalbu, gubahan anyar ini bukanlah kosmetik untuk mempercantik rupa yang usang. Ini adalah sebuah monumen hidup dari sebuah perjalanan spiritual—sebuah proklamasi tentang bagaimana sebuah band bertahan dari badai, menjaga idealisme yang kian mahal harganya di altar zaman yang terus berubah.

“TANGGUH” bukan sekadar judul. Ia adalah mantra, sebuah sikap, dan cara AkayassukA menolak tunduk pada arus.

Melalui petikan gitar yang kian dewasa, dinamika instrumen yang menari-nari bagai ombak, serta karakter vokal yang menghujam sukma, lagu ini hadir membawa warna baru yang matang. Ia ditiupkan ke langit nusantara dengan harapan besar: menjadi warisan, sebuah aset abadi bagi sejarah musik rock Indonesia.

“Semoga dengan penyuguhan karya lagu ‘TANGGUH’, akan menjadi aset musik khususnya genre rock di Indonesia,” bisik Anes Krisminarno dalam untaian siaran persnya, sebuah harapan yang melambung bersama angin.

Gema yang Mulai Mengangkasa

Untuk saat ini, petikan melodi “TANGGUH” baru bisa didekap dan diresapi melalui gerbang visual di kanal YouTube resmi AkayassukA, sebelum nantinya ia menyusup ke ruang-ruang dengar platform digital lainnya.

Perilisan ini adalah sebuah bukti otentik. Bahwa di tanah berselimut khatulistiwa ini, detak jantung musik rock belum mati. Ia masih hidup, mengalir di urat nadi para musisinya, tumbuh mekar di sela-sela waktu, dibesarkan oleh jemari-jemari setia yang menolak berhenti berkarya.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani