Entertainmen

Studiklub Teater Bandung Gelar “Doea Tjerita dari Tanah Djawa”

×

Studiklub Teater Bandung Gelar “Doea Tjerita dari Tanah Djawa”

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Didirikan pada 1958 dari lingkungan mahasiswa Seni Rupa ITB, Studiklub Teater Bandung dikenal sebagai kelompok teater modern tertua di Indonesia yang hingga kini tetap konsisten merawat tradisi teater pemikiran.

Selama hampir tujuh dekade, STB melahirkan banyak aktor, sutradara, dan pekerja seni penting, sekaligus dikenal lewat keberaniannya mengangkat lakon-lakon yang memadukan refleksi sosial, sejarah, dan kemanusiaan. Di tengah perubahan zaman, STB tetap menjaga teater bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialog budaya dan perenungan publik.

Studiklub Teater Bandung Gelar “Doea Tjerita dari Tanah Djawa” di Kudus.

Pertanyaan tentang kuasa, keadilan, dan kemanusiaan kembali dihadirkan ke atas panggung melalui pertunjukan Doea Tjerita dari Tanah Djawa yang dibawakan Studiklub Teater Bandung (STB) di Kudus. Kelompok teater modern tertua di Indonesia itu menghadirkan dua monolog, Julungwangi dan Amangkurat, dalam rangkaian “Pentas Dua Kota” yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation.

Pementasan berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 19.30 WIB di Sanggar Teater Djarum, Jalan Ahmad Yani No. 41, Kudus, bekerja sama dengan Sanggar Teater Djarum sebagai mitra lokal. Kehadiran pertunjukan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Keanekaragaman Budaya Sedunia yang diperingati setiap 21 Mei, sejalan dengan semangat UNESCO dalam memperkuat dialog antarbudaya.

Disutradarai sekaligus diadaptasi oleh IGN Arya Sanjaya, pertunjukan ini mempertemukan dua dunia berbeda, tragedi Yunani klasik dan sejarah Nusantara dalam balutan estetika Jawa. Arya merupakan alumnus Acting Course STB yang dikenal aktif menggarap berbagai repertoar teater nasional dan internasional. Salah satu lakon yang kembali ia tafsirkan kali ini adalah Amangkurat-amangkurat karya Goenawan Mohamad.

Monolog Julungwangi yang dimainkan Ria Ellysa Mifelsa merupakan adaptasi dari Antigone karya Sophocles. Lakon ini berkisah tentang seorang perempuan yang menggugat perlakuan berbeda terhadap dua saudara yang gugur dalam peperangan. Satu dimuliakan sebagai pahlawan, sementara yang lain dianggap pengkhianat dan dibiarkan tanpa penghormatan. Dari konflik itu, pertunjukan berkembang menjadi pertanyaan tentang batas hukum negara, moral, dan nurani manusia.

Sebaliknya, Amangkurat yang dimainkan Indrasitas menghadirkan sosok raja Mataram di penghujung hidupnya. Dalam kondisi sakit dan terasing, ia mencoba membela berbagai keputusan keras yang pernah diambil demi mempertahankan kekuasaan. Adaptasi dari karya Goenawan Mohamad ini menampilkan sisi rapuh seorang penguasa ketika berhadapan dengan rasa takut, penyesalan, dan kesunyian.

Kedua monolog dibangun dengan pendekatan artistik yang berbeda. Julungwangi menggunakan elemen daun dan ranting kering untuk memperkuat nuansa dramatik, sedangkan Amangkurat tampil minimalis dengan panggung nyaris kosong, hanya menyisakan bangku kampung dan sebutir kelapa muda sebagai metafora kehampaan kekuasaan.

Kekuatan pertunjukan turut ditopang tim produksi yang solid. Diana G. Leksanawati bertindak sebagai pimpinan produksi, Aji Sangiaji menggarap tata cahaya dan multimedia, sementara tata panggung dipercayakan kepada Deden Syarif dan Kemal Ferdiansyah. Tata busana ditangani Yati Suyatna Anirun, dengan dukungan musikal dari Sugiyati Sa dan Muhammad Rakha. Produksi ini berada di bawah pengawasan Sis Triadji sebagai pelindung dan Yoyo C. Durachman selaku penasihat.

Selain pementasan, STB juga mengadakan Workshop Pemeranan bagi pelajar SMA di Kudus pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 09.00–11.00 WIB dengan kuota peserta terbatas. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya regenerasi sekaligus pengenalan seni teater kepada generasi muda.

Tahun 2026 juga menandai perjalanan 68 tahun Studiklub Teater Bandung sejak berdiri pada 1958. Di tengah perubahan zaman, STB tetap bertahan sebagai salah satu kelompok teater paling konsisten di Indonesia, menjaga teater bukan sekadar tontonan, melainkan ruang berpikir dan merawat kepekaan manusia.

Melalui Doea Tjerita dari Tanah Djawa, STB tidak hanya menghadirkan kisah tentang masa lalu, tetapi juga cermin tentang hari ini, tentang kuasa yang kerap melahirkan korban, tentang manusia yang mencari pembenaran, dan tentang suara-suara yang sering terlupakan.

Penulis: Kin Sanubary