Keluarga

Galeri Ruhiyat, Ruang Budaya yang Menumbuhkan Harapan Warga

×

Galeri Ruhiyat, Ruang Budaya yang Menumbuhkan Harapan Warga

Sebarkan artikel ini
Pelestari wayang Tatang Heryana menyelesaikan produksi wayang di Galeri Ruhiyat, Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026). Galeri Ruhiyat yang berdiri sejak 1961 oleh Alun Ruhiyat menjadi pusat edukasi seni wayang golek yang masih bertahan di Kota Bandung dengan memproduksi wayang golek serta suvenir berbentuk wayang yang diminati pasar mancanegara dan berbagai kawasan wisata di Jawa Barat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/sas

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Galeri Ruhiyat yang dikenal sebagai pusat produksi sekaligus pelestarian wayang golek menyimpan peran penting dalam kehidupan sosial warga sekitarnya. Sejak dirintis mendiang Alun Ruhiyat, galeri ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka akses pendidikan dan penghidupan bagi masyarakat, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Pada masanya, Alun Ruhiyat aktif memberdayakan warga sekitar dengan mempekerjakan mereka sambil membiayai pendidikan. Sejumlah anak yang terpaksa putus sekolah diberi kesempatan bekerja di galeri sekaligus melanjutkan sekolah. Mereka juga diajari keterampilan membuat wayang golek, sehingga memiliki bekal keahlian jangka panjang. Upaya ini melibatkan keluarga hingga tetangga, menciptakan lingkar pemberdayaan yang luas.

Jumlah pekerja Galeri Ruhiyat kala itu mencapai sekitar 30 orang. Seluruh karyawan mendapatkan fasilitas kerja, termasuk sepeda yang pada zamannya tergolong barang bernilai tinggi. Fasilitas tersebut mencerminkan perhatian Alun Ruhiyat terhadap kesejahteraan pekerja, sekaligus mendukung mobilitas mereka.

Popularitas wayang golek semakin meningkat ketika keluarga Alun Ruhiyat menetap di kawasan dekat Hotel Savoy Homann. Galeri ini kemudian menggunakan nama berbahasa Inggris, A. Ruchyat Gallery: Wooden Puppet & Mask Gallery, untuk memudahkan wisatawan mancanegara mengenalnya. Kehadiran turis asing membawa dampak ekonomi langsung, termasuk bantuan biaya hidup dan pendidikan bagi anak-anak di lingkungan galeri.

Sejumlah wisatawan bahkan menjadi orang tua asuh bagi warga sekitar. Salah satunya turis asal Jerman yang dikenal dermawan dan membina puluhan anak hingga mereka mandiri. Banyak dari anak asuh tersebut kini bekerja di pusat-pusat seni dan budaya di Bandung.

Sepeninggal Alun Ruhiyat, warga bersama penerus galeri berinisiatif mengembangkan kawasan sekitar menjadi Kampung Seni. Lingkungan ditata secara gotong royong agar lebih mudah dikenali wisatawan. Transformasi ini kembali meningkatkan kunjungan, sekaligus menegaskan peran Galeri Ruhiyat sebagai ruang hidup pelestarian wayang golek yang terus memberi manfaat sosial hingga kini.

Sumber: detikJabar