SUBANG, TINTAHIJAU.COM- Menjelang Ramadan, bukan hanya urusan fisik dan ibadah yang perlu disiapkan. Ada perkara-perkara sosial yang, sadar atau tidak, sering terbawa ke bulan puasa dan justru mengganggu kekhusyukan.
Beberapa hal ini patut saya bereskan lebih dulu.
Pertama, urusan dengan sesama yang belum selesai.
Entah itu salah paham, ketersinggungan, atau komunikasi yang terputus, semua sebaiknya diselesaikan. Ramadan terlalu berharga jika dijalani dengan hati yang masih menyimpan ganjalan.
Kedua, kepedulian terhadap sekitar yang mulai menipis.
Kesibukan sering membuat saya abai pada kondisi tetangga, lingkungan, atau orang-orang yang sedang kesulitan. Padahal, puasa bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga melatih kepekaan sosial.
Ketiga, sikap reaktif dan mudah menghakimi.
Di ruang sosial, baik nyata maupun media sosial, terlalu mudah terpancing emosi. Ini perlu dibenahi agar Ramadan tidak diisi dengan kemarahan, debat kusir, atau komentar yang menyakiti orang lain.
Keempat, pola hidup yang berdampak ke orang lain.
Mulai dari konsumsi berlebihan, membuang makanan, hingga kebiasaan yang mengganggu kenyamanan sekitar. Ramadan seharusnya menjadi momentum hidup lebih sederhana dan bertanggung jawab.
Kelima, komitmen berbagi yang belum tertata.
Niat berbagi sering besar, tapi tidak disiapkan dengan baik. Menyusun dari awal, baik waktu, cara, maupun kemampuan, membuat kepedulian sosial lebih nyata dan berkelanjutan.



