Literasi

Coretan Dinding: Hidup yang Tidak Simetris

×

Coretan Dinding: Hidup yang Tidak Simetris

Sebarkan artikel ini

Di hadapan lukisan dinding ini, kita tidak sedang disuguhi keindahan yang berisik. Tidak ada warna yang berteriak, tidak ada bentuk yang memaksa untuk dipahami. Justru sebaliknya: ia mengajak diam, lalu berpikir.

Bidang-bidang yang terpotong dan saling berdampingan mengingatkan kita pada wajah-wajah manusia dalam masyarakat. Ada yang menempati ruang luas, ada pula yang terjepit di sudut sempit.

Bukan karena mereka berbeda nilai, tetapi karena hidup sering membagi ruang secara tidak adil. Lukisan ini seolah berkata: ketimpangan bukan hal baru, tetapi keadilan adalah upaya yang harus terus diperjuangkan.

Lengkungan-lengkungan yang menyerupai pintu atau lorong menyimbolkan manusia-manusia yang hidup di ambang batas. Mereka yang berada di antara cukup dan kekurangan, antara terlihat dan dilupakan, antara harapan dan keputusasaan.

Di ruang liminal itulah manusia sering gelisah. Namun justru di situlah kesadaran tumbuh. Kita belajar bahwa hidup bukan hanya soal sampai, melainkan juga tentang berani berada di tengah-tengah ketidakpastian.

Garis-garis vertikal yang berdiri tegak di tengah komposisi yang terfragmentasi mengandung pesan etis yang kuat. Di tengah sistem sosial yang sering timpang, nilai kemanusiaan seharusnya tetap tegak. Martabat manusia tidak boleh ikut terpotong hanya karena status sosial, ekonomi, atau politik.

Garis-garis vertikal yang tegak di antara bidang datar dan potongan acak memberi pesan penting: di tengah hidup yang tidak selalu rapi, manusia membutuhkan poros.

Nilai, prinsip, atau keyakinan yang tidak ikut runtuh meski keadaan berubah. Tanpa poros, keseimbangan hanya ilusi.

Warna-warna yang diredam; hijau keabu-abuan, putih kusam, krem lembut, menghadirkan kedewasaan emosional. Ini bukan palet euforia, melainkan palet penerimaan.

Sebuah pengakuan bahwa hidup tidak selalu terang, tetapi juga tidak perlu ditakuti. Ada ketenangan dalam menerima realitas sebagaimana adanya.

Yang paling menarik, lukisan ini tidak simetris. Namun anehnya, ia tetap terasa seimbang. Di sanalah letak pelajaran sosialnya: keadilan tidak selalu berarti sama rata. Harmoni justru lahir dari perbedaan yang diberi ruang secara proporsional.

Pesan terdalam dari lukisan ini, dan juga dari hidup itu sendiri. Bahwa kita tidak dituntut menjadi sempurna, tidak harus selalu utuh, tidak wajib simetris. Cukup menemukan keseimbangan di tengah ketidakteraturan.

Karena pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang bebas dari retakan, melainkan hidup yang mampu berdamai dengan bentuknya sendiri.

Pesan terdalam dari lukisan ini sederhana namun mendesak: bahwa tugas kita sebagai manusia bukan menciptakan dunia yang sempurna, melainkan dunia yang lebih adil bagi mereka yang selama ini berada di pinggir bingkai.