Megapolitan

BMKG Peringatkan Dominasi Awan Cumulonimbus di Indonesia Sepekan ke Depan, Masyarakat Diminta Siaga

×

BMKG Peringatkan Dominasi Awan Cumulonimbus di Indonesia Sepekan ke Depan, Masyarakat Diminta Siaga

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bahwa sebagian besar wilayah udara Nusantara akan dikepung oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) selama sepekan ke depan, tepatnya pada periode 26 Maret hingga 1 April 2026. Munculnya awan ini menjadi indikator kuat akan tingginya risiko cuaca ekstrem, seperti hujan deras yang kerap disertai kilat dan angin kencang di berbagai pelososk daerah.

Dalam laporan pemetaan cuaca terbarunya yang juga menjadi rujukan bagi keselamatan penerbangan, BMKG membagi cakupan awan konvektif ini ke dalam tiga tingkatan: Frequent (FRQ) untuk kepadatan di atas 75 persen, Occasional (OCNL) dengan luasan 50 hingga 75 persen, serta Isolated untuk sebaran di bawah 50 persen. Klasifikasi ini bertujuan untuk memetakan seberapa luas suatu wilayah berisiko diterjang cuaca buruk.

Daerah Terdampak Kategori Tinggi (Frequent/FRQ) Wilayah yang diprediksi mengalami dominasi awan CB tertinggi (FRQ) mencakup kawasan Kalimantan Timur, perairan Laut Maluku, hingga Samudra Hindia di sebelah barat Kepulauan Nias. Pada zona ini, awan badai diproyeksikan terbentuk secara masif, sehingga peluang terjadinya hujan berintensitas sangat tinggi dalam durasi tertentu menjadi sangat besar.

Sebaran Kategori Menengah (Occasional/OCNL) Merata di Indonesia Sementara itu, awan CB dengan kategori OCNL dipantau menyelimuti hampir seluruh kepulauan di Indonesia. Di Pulau Jawa, wilayah yang berisiko diguyur hujan sedang hingga lebat secara tiba-tiba meliputi Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.

Kondisi cuaca yang serupa juga mengintai Pulau Sumatera (dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga Lampung) serta seluruh provinsi di Pulau Kalimantan. Untuk kawasan Indonesia Timur, potensi ini merata di seluruh wilayah Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, hingga Papua, termasuk wilayah Papua Pegunungan dan Papua Selatan.

Peringatan Keselamatan Pelayaran Selain daratan, BMKG juga memberikan catatan khusus untuk wilayah perairan strategis. Pertumbuhan awan Cumulonimbus terpantau aktif di Laut Jawa (bagian barat, tengah, dan timur), Laut Banda, Laut Flores, Laut Sulawesi, Laut Arafuru, Laut Maluku, Selat Makassar, dan Selat Karimata. Kawasan Samudra Hindia dari selatan Jawa hingga NTT serta Samudra Pasifik di utara Papua juga tak luput dari ancaman ini.

Hal ini menuntut kewaspadaan ekstra dari para nelayan maupun pelaku industri pelayaran kapal. Pasalnya, karakteristik awan CB dapat memicu gelombang tinggi dan cuaca buruk di lautan secara mendadak yang sangat membahayakan keselamatan pelayaran.

Imbauan Kewaspadaan Harian Awan Cumulonimbus sendiri tercipta dari proses pemanasan bumi yang kuat berpadu dengan tingginya uap air di atmosfer. Formasi awan ini sangat lekat dengan fenomena hidrometeorologi yang merusak, mulai dari hujan badai, petir, hingga angin puting beliung.

Menyusul masifnya potensi awan badai tersebut, BMKG mengimbau masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan. Hujan lebat dengan durasi singkat berpotensi memicu banjir bandang dan genangan air, sedangkan angin kencang dapat mengakibatkan pohon tumbang atau merusak fasilitas umum.

Masyarakat dan pengelola transportasi (darat, laut, dan udara) disarankan untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dari kanal resmi BMKG guna merencanakan langkah antisipasi, mengingat kondisi atmosfer bersifat sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.