SUBANG, TINTAHIJAU.COM — Surutnya genangan air di wilayah Pantura Subang tidak serta-merta menandakan persoalan banjir telah tuntas.
Pemerintah daerah diingatkan agar tidak hanya fokus pada penanganan saat bencana terjadi, melainkan melakukan langkah sistematis dan berkelanjutan untuk menuntaskan akar persoalan banjir.
Pengamat Pembangunan Daerah dari Empirium Pengkajian Islam dan Riset Sosial, Irpan Mulyawan, menegaskan bahwa penanganan banjir seharusnya dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, pola penanganan yang bersifat reaktif hanya akan membuat banjir terus berulang setiap musim hujan.
“Penanganan banjir tidak selesai pada saat kejadian, tetapi harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga banjir tidak terulang lagi,” ujarnya.
Data penanganan bencana menunjukkan skala dampak yang luas. Sebanyak 77.426 jiwa di sembilan kecamatan terdampak banjir yang terjadi sejak akhir Januari. Bencana tersebut merendam 23.833 rumah, merusak ribuan hektare sawah dan tambak, serta mengganggu puluhan kilometer akses jalan, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Data BPBD mencatat banjir berdampak pada 26.793 kepala keluarga, merendam 23.833 rumah, merusak 8.257 hektare sawah dan 2.017 hektare tambak, serta mengganggu 32.002 meter jalan.
Selain itu, 41 sekolah dan 113 sarana ibadah turut terdampak. Meski kerusakan meluas, penanganan terpadu berhasil menekan korban jiwa hingga nihil.
Di sektor pertanian, Dinas Pertanian mencatat sekitar 4.059 hektare lahan terdampak banjir dan kini tengah diidentifikasi secara detail sembari berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.
Irpan menilai dorongan Pemerintah Kabupaten Subang kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk melakukan normalisasi sungai dan pembangunan turap penahan tanah (TPT) merupakan langkah yang tepat.
Selain itu, rencana pembangunan embung di wilayah rawan banjir juga dinilai penting untuk mengendalikan limpasan air saat curah hujan tinggi.
Namun demikian, ia mengingatkan agar berbagai rencana tersebut tidak berhenti pada tahap wacana. Menurutnya, seluruh program harus terus didorong hingga benar-benar terealisasi dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Rencana normalisasi sungai, pembangunan TPT, hingga pembuatan embung jangan berhenti. Semua harus didorong secara konsisten agar banjir tidak terus terulang di wilayah Pantura Subang,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat koordinasi serta memastikan langkah penanganan banjir berjalan berkelanjutan.
“Dengan pendekatan yang komprehensif, persoalan banjir di Pantura Subang diharapkan tidak lagi menjadi bencana rutin setiap tahun,” pungkasnya




