Megapolitan

Ini yang Jadi Penyebab Siswa Acungkan Jari Tengah kepada Guru di Purwakarta

×

Ini yang Jadi Penyebab Siswa Acungkan Jari Tengah kepada Guru di Purwakarta

Sebarkan artikel ini
Video viral siswa SMA di Purwakarta acungkan jari tengah kepada guru (Foto: Istimewa)

PURWAKARTA, TINTAHIJAU.com — Insiden viral yang memperlihatkan sejumlah pelajar mengacungkan jari tengah kepada guru di SMAN 1 Purwakarta tidak hanya memicu kecaman publik, tetapi juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya menjadi penyebab perilaku tersebut?

Peristiwa yang terjadi di ruang kelas XI IPS itu berlangsung sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Dalam rekaman yang beredar luas, sembilan siswa terlihat melakukan gestur tidak sopan kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan yang baru mengajar di sekolah tersebut. Aksi itu pun dengan cepat menyebar di media sosial dan menuai reaksi keras dari berbagai pihak.

Namun, di balik tindakan tersebut, para pemangku kebijakan pendidikan menilai ada sejumlah faktor yang saling berkaitan.

Salah satu penyebab utama yang disoroti adalah pengaruh kuat dunia digital terhadap perilaku remaja. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat menyebut bahwa penggunaan ponsel kerap memicu ekspresi spontan siswa, yang mencerminkan kondisi bawah sadar mereka. Dalam konteks ini, tindakan mengacungkan jari tengah bisa jadi bukan sekadar candaan, melainkan refleksi dari nilai yang mereka serap di luar lingkungan sekolah.

Selain itu, perubahan lingkungan tumbuh kembang anak turut berperan besar. Jika sebelumnya pendidikan lebih banyak berlangsung di sekolah dan keluarga, kini ruang digital menjadi “lingkungan ketiga” yang sangat dominan. Paparan konten tanpa filter, budaya komunikasi bebas, hingga tren di media sosial dinilai dapat mengikis batasan etika dalam berinteraksi.

Faktor lain yang mengemuka adalah lemahnya internalisasi pendidikan karakter. Program pembinaan moral yang menekankan nilai empati, rasa hormat, dan disiplin dinilai belum sepenuhnya tertanam dalam diri siswa. Hal ini terlihat dari keberanian mereka melakukan tindakan yang jelas melanggar norma, bahkan di hadapan seorang guru.

Kurangnya empati juga menjadi sorotan. Para siswa dinilai belum mampu memahami dampak dari tindakan mereka terhadap orang lain, khususnya guru sebagai figur yang seharusnya dihormati. Minimnya kesadaran ini menunjukkan adanya celah dalam proses pembentukan karakter yang seharusnya berjalan seiring dengan pendidikan akademik.

Di sisi lain, hubungan komunikasi antara guru dan siswa juga dinilai perlu diperkuat. Keterbukaan dan kedekatan emosional dianggap penting untuk membangun rasa saling menghargai. Tanpa itu, interaksi di kelas berpotensi menjadi kaku dan kehilangan makna, sehingga siswa lebih mudah bertindak di luar batas.

Insiden ini juga mengungkap adanya kecenderungan siswa untuk mencari pengakuan di ruang publik digital. Dengan direkam dan diunggah, tindakan tersebut diduga memiliki motif untuk menarik perhatian atau dianggap lucu oleh teman sebaya, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya.

Berbagai faktor tersebut menunjukkan bahwa perilaku menyimpang di kalangan pelajar tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari kombinasi pengaruh lingkungan, teknologi, dan kurang optimalnya pendidikan karakter.

Kasus di Purwakarta ini menjadi peringatan bahwa pembinaan generasi muda memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya mengandalkan aturan dan sanksi, tetapi juga penguatan nilai, pengawasan penggunaan teknologi, serta komunikasi yang lebih humanis antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar.