CIREBON, TINTAHIJAU.com – Sektor industri di Kabupaten Cirebon menunjukkan tren pertumbuhan masif sepanjang 2024 dengan proyeksi yang semakin positif pada 2025. Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) mencatat lonjakan drastis pada investasi, nilai produksi, hingga penyerapan tenaga kerja yang didominasi oleh ekspansi industri skala besar.
Total investasi industri diproyeksikan naik 6,17 persen, dari Rp80,602 miliar pada 2024 menjadi Rp85,576 miliar pada 2025. Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono, menyebut hal ini sebagai bukti kepercayaan investor yang terus menguat.
“Kepercayaan investor, khususnya di sektor industri besar, terus meningkat. Ini menandakan Cirebon semakin dilirik sebagai pusat investasi yang menjanjikan,” ujarnya, seperti yang dikutip detikJabar, Rabu (6/5/2026).
Industri besar menjadi kontributor utama dengan kenaikan nilai produksi mencapai 15,47 persen, jauh melampaui pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Secara total, nilai produksi industri daerah terkerek dari Rp34,018 miliar menjadi Rp38,479 miliar.
Suhartono menilai peningkatan ini sebagai cerminan efisiensi manufaktur yang semakin membaik di wilayahnya.
“Ini menunjukkan kapasitas produksi kita semakin optimal. Efisiensi dan ekspansi yang dilakukan pelaku industri mulai memberikan hasil nyata,” kata Suhartono.
Selain produksi, jumlah unit usaha juga meningkat pesat sebesar 28,46 persen, dari 397 unit menjadi 510 unit pada 2025.
Dampak paling signifikan terlihat pada sektor ketenagakerjaan. Penyerapan tenaga kerja diproyeksikan melonjak hingga 73,25 persen, yakni dari 157 ribu orang pada 2024 menjadi 272 ribu orang pada 2025. Khusus pada sektor industri besar, serapan tenaga kerja tumbuh fantastis sebesar 242,22 persen.
“Lonjakan ini sangat menggembirakan. Artinya, investasi yang masuk benar-benar berdampak langsung pada masyarakat, terutama dalam menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Meski tidak se-agresif industri besar, sektor IKM tetap stabil dengan kenaikan investasi menjadi Rp9,111 miliar dan penyerapan tenaga kerja mencapai 118 ribu orang. Suhartono menegaskan peran IKM tidak boleh dikesampingkan dalam struktur ekonomi daerah.
“IKM tetap menjadi fondasi ekonomi kerakyatan. Meski pertumbuhannya tidak sebesar industri besar, kontribusinya tetap vital dan konsisten,” tandas Suhartono.





