Megapolitan

Itwasum Polri Ungkap Terduga Pelaku Teror Petugas Damkar Depok Ternyata Warga Subang

×

Itwasum Polri Ungkap Terduga Pelaku Teror Petugas Damkar Depok Ternyata Warga Subang

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.COM – Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri mengungkap identitas terduga pelaku teror terhadap petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Depok, Khairul Umam. Teror tersebut muncul setelah Khairul mengunggah konten edukasi mengenai fungsi helm sebagai alat pelindung diri (APD), bukan untuk menganiaya orang.

Konten itu diunggah menyusul kasus dugaan penganiayaan oleh eks anggota Brimob Polda Maluku, Masias Siahaya, yang memukul seorang siswa menggunakan helm hingga korban meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026).

Dikutip dari KOMPAS, Auditor Kepolisian Madya TK II Itwasum Polri, Kombes Pol Manang Soebeti, menyebut terduga pelaku berinisial Wawan Gunawan, seorang buruh harian lepas yang berdomisili di Dusun Pangadangan, Pamanukann, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

“(Data) itu banyak, data kayak gitu ada di website mana-mana, ini data profiling biasa,” kata Manang saat dikonfirmasi, Sabtu (28/2/2026).

Manang menegaskan, pengungkapan identitas dilakukan untuk meluruskan spekulasi yang menyebut pelaku teror merupakan anggota kepolisian. Ia menekankan, terduga pelaku bukan polisi.

“Yang paling penting, tuduhan yang dikomentarkan itu kan arahnya yang meneror dicurigai adalah polisi. Nah, itu saja yang ingin saya buktikan bahwa (peneror) bukan polisi,” ujarnya.

Menurut Manang, teror yang tergolong serius biasanya dilakukan secara berulang dan intens, seperti terus-menerus menghubungi korban, mendatangi langsung, atau mengirimkan paket tanpa identitas. Sementara dalam kasus ini, ancaman disampaikan melalui pesan WhatsApp.

“Kalau hanya WhatsApp, siapa pun bisa melakukannya, bisa iseng, bisa terpancing emosi,” katanya.

Sebelumnya, Khairul Umam mengaku menerima dua pesan bernada ancaman pada Selasa (24/2/2026) malam dan Rabu (25/2/2026) pagi. Pesan tersebut dikirim setelah ia membagikan konten yang menegaskan bahwa helm dirancang untuk melindungi kepala, bukan untuk “menghancurkan” kepala.

Konten itu diduga ditafsirkan berbeda dan dikaitkan dengan kasus dugaan penganiayaan terhadap pelajar berinisial AT (14) oleh anggota Brimob berinisial Bripda MS di Tual, Maluku.

Khairul mengatakan, awalnya pengirim pesan mengaku sebagai penggemarnya, baik sebagai komika maupun petugas damkar. Namun percakapan kemudian berubah menjadi peringatan yang membuatnya merasa terintimidasi.

“Jadi, terornya tuh di WhatsApp semua. Seperti yang saya bikin di story, awalnya dia ngaku sebagai fans,” ujar Khairul.

Menurut dia, pengirim pesan meminta dirinya berhati-hati, memakai helm, menjaga keselamatan, hingga menyarankan untuk “sowan” kepada orang tuanya. Dalam pesan berikutnya, muncul kalimat yang dinilai sebagai ancaman terselubung.

“Ya halus-halus sih. Sempat juga dia ngomong, ‘Tunggu saya ada kejutan buat kamu’,” kata Khairul.

Kasus ini menambah sorotan publik terhadap isu kekerasan oleh aparat sekaligus maraknya intimidasi di ruang digital, terutama setelah peristiwa di Tual memicu perhatian luas masyarakat.